Pengertian Taqdir
Yang dimaksud dengan istilah Taqdir adalah
Qadar(Al-qadar khairuhu wa syarruhu) atau Qadha’ dan Qadar( Al-Qadha’
wal-Qadar). Secara etimologis Qadha’ adalah bentuk masdhar dari kata kerja
qadha yang berarti berkehendak atau ketetapan hukum. Dalam hal ini Qadha’
adalah kehendak atau ketetapan hukum Allah SWT terhadap segala sesuatu.
Sedangkan Qadar secara etimologis adalah bentuk masdhar dari qadara yang
berarti ukuran atau ketentuan Allah SWT terhadap segala sesuatunya. Menurut
terminologis ada Ulama yang berpendapat
kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama, dan ada pula yang membedakannya
tergantung bagaimana mendefinisikannya.
Beberapa Tingkatan Takdir
1. Al-ilmu , Allah SWT Maha Mengetahui
segala sesutau. Dia mengetahui apa yang telah terjadi , yang sedang terjadi dan
yang akan terjadi. Tidak satu pun luput dari ilmu Allah SWT.
2.
Al-Kitabah , Allah SWT yang Maha Mengetahui telah menuliskan segala sesuatu di
lauh mahfuzh, dan tulisan itu tetap ada sampai hari Kiamat. Apa yang telah
terjadi pada masa yang lalu, dan apa yang terjadi sekarang, dan apa yang
terjadi pada masa yang akan datang sudah dituliskan oleh Allah SWT di lauh
mahfuzh.
3
3.
Al- Masyi-ah , Allah SWT mempunyai
kehendak terhadap segala sesuatu yang dilangit dan di bumi. Tidak ada sesuatu
pun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Apa – apa yang di kehendaki oleh
Allah pasti akan terjadi. Dan apa-apa yang tidak di kehendaki oleh Allah SWT
pasti tidak akan terjadi. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang
menunjukkan masyiatullah yang mutlak. Artinya kalau Allah mengkhendaki sesutu
yang tidak bisa menghalangi kehendak-Nya itu. Begitu juga sebaliknya, kehendak
siapa pun tidak akan terjadi kalau tidak di kehendaki oleh Allah SWT.
4.
Al- Khalq , Allah SWT menciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu selain Allah
Yang Maha Mencipta adalah makhluk.
Contoh Takdir (Kematian)
I.
PENCIPTAAN MANUSIA
A.
Proses Penciptaan Manusia
Proses penciptaan manusia secara detail
telah di jelaskan oleh Allah SWT dalam kitab-nya. Dia berfirman :
“ padahal sesungguhnya, Allah SWT menciptakan manusia dari suatu saripati
(berasal) dari tanah (sulaalatin min
thiin) yang kemudian di jadikan-Nya saripati itu air mani (nuthfah) (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim) (qaraarin makiin),
kemudian air mani itu di jadikan-Nya segumpal darah (‘alaqah), lalu segumpal darah itu menjadi segumpal daging (mudghah), dan segumpal daging it
menjadi tulang belulang (‘izhaam),
lalu tulang belulang itu dibungkus-Nya dengan daging (lahma) , kemudian Dijadikan-Nya makhluk yang (berbentuk) lain.
Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik.” (QS.
Al-mu’minuun :12-14).
Itulah tiga fase penciptaan manusia menurut
Al-Qur’an. Lalu bagaimanakah ilmu pengetahuan membuktikannya?
Williams P., penulis buku “ Basic Human
Embryology” menyebutkan bahwa kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan,
yakni pre-embrionik (dua setengah minggu pertama), embrionik (sampai akhir
minggu kedelapan), dan janin (dari minggu kedelapan sampai kelahiran) inilah
tiga kegelapan yang dimaksud oleh Allah SWT dalam ayat tersebut.
B.
Makna Kehadiran Manusia
Sungguh, manusia diciptakan oleh Allah SWT
di dunia ini bukan secara main-main. Oleh karena itu, penciptaan manusia di
dunia ini memiliki tujuan yang pasti. Sebab, Allah SWT telah memberikan amanah
atau tugas utama kepada kita. Yakni, mengabdi dan beribadah hanya kepadanya.
Kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi telah di muliakan oleh Allah
SWT dengan berbagai nikmat-Nya. Bahkan, dia telah menjadikan manusia sebagai
makhluk yang paling sempurna diantara para makhluk-Nya. Disamping itu, Allah
SWT juga meninggikan kedudukan sebagian manusia atas sebagian lainnya.
Diantaranya, dengan menjadikan penguasa-penguasa di bumi. Tentu saja semua itu
hanya untuk menguji manusia. Agar fungsi dan tujuan penciptaan manusia tersebut
dapat dijalankan dengan baik, Allah SWT telah menurunkan petunjuk dan
peraturan-peraturan (syari’at) hidup bagi seluruh manusia. Syari’at tersebut
disampaikan melalui para nabi dan rasul-Nya. Dengan begitu, manusia akan
mendapat petunjuk-Nya dan tidak akan tersesat selama masih mengikuti
syari’at-Nya.
C.
Musibah Sebagai Ujian Bagi Manusia
Setelah menciptakan manusia dalam bentuk
yang sempurna, Allah SWT menganugerahkan berbagai nikmat kepada mereka agar
dapat menjalani kehidupan di dunia sebaik-baiknya. Namun, selain nikmat
tersebut, Allah SWT juga menimpakan musibah untuk menguji mereka. Apakah dengan
musibah tersebut manusia akan tetap beriman atau menanggalkan keimanannya.
Banyak sekali ulama yang memaknai kata
musibah. Namun, intinya musibah adalah sesutau yang yang menyakitkan dan
dibenci. Sebagian mereka mengatakan bahwa musibah berarti al-baliyyah (ujian)
dan semua perkara yang dibenci oleh manusia. Sedangkan, Imam Ibnu Madzhur
adalah ad-dhar yang berati kemalangan, musibah dan bencana. Musibah yang
menimpa setiap manusia berbeda-beda dan banyak jenisnya. Misalnya, musibah
kecil seperti sakit, kegagalan, dan kehilangan harta benda. Kemudian musibah
yang paling besar yakni kematian. Inilah musibah yang paling dibenci dan
ditakuti oleh semua orang, kecuali mereka yang bertakwa.
Menurut Umar bin Hafidz, ada dua perkara
yang kerap menyebabkan manusia di timpa musibah. Pertama, tiadanya penghargaan
dan waktu, kesempatan dan umur yang telah dianugerahkan Allah SWT. Kedua,
pergaulan dan persaudaraan yang tidak lagi dilandasi itikad baik. Oleh sebab
itu, Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya telah banyak mengingatkan umat agar
memanfaatkan waktu dengan maksimal dan mendasari pergaulannya dengan niat yang
baik. Namun, sayangnya orang-orang menutup telinganya dan matanya dari peringatan
tersebut. Mereka tidak lagi berminat mendengarkan seruan Nabi Muhammad SAW.
II.
SELUK BELUK KEMATIAN SERTA PSIKOLOGI
KEMATIAN
a.
KESADARAN AKAN KEMATIAN
Shneidman(psikologi asal Amerika Serikat)
menyebutkan bahwa dalam sebuah survei, diajukan pertanyaan responden(penjawab
dalam kegiatan penelitian). “ seberapa sering anda memikirkan kematian?” Dari
seluruh responden yang ada , lebih dari setengahnya mengatakan “ kadang-kadang”
, seperempatnya mengatakan “ sering” atau “ sangat sering”, dan seperempatnya
lagi mengatakan “jarang” memeikirkan kematian. Kemudian , ketika diajukan
pertanyaan , “ Bagaimana perasaan Anda tentang kematian?” lebeih dari setengah
total responden mengatakan bahwa pikiran terhadap kematian membuat mereka lebih
menghargai hidup dan menikmati kehidupan. Hanya sepertiga dari mereka yang
mengatakan bahwa memikirkan kematian membuat mereka takut dan depresi
(tertekan).
Takut mati bukanlah ketakutan yang normal,
akan tetapi ia merupakan bentuk fbia atau kecemasan yang bercampur dalam satu
waktu sekaligus dengan perasaan takut,panik,gentar, dan ngeri. Fobia mati
bukanlah kecemasan jauh yang menanti kita di akhir jalan, akan tetapi ia
merupakan kecemasan laten yang terpendam di dalam relung-relung perasaan hingga
kita nyaris mencium aroma kematian di segala sesuatu. Moro (tokoh asal italia)
mencoba menjelaskan kesadaran akan kematian memiliki dua bentuk, yaitu
kesadaran laten (tersembunyi) dan kesadaran teraktualisasi.
Kesadaran kematian yang bersifat laten,
timbul ketika seseorang menyadari bahwa semua manusia akan mati. Tetapi, mereka
tidak mempunyai pemahaman yang pasti akan kematiannya. Mereka juga jarang
memikirkan akan kematian, khususnya kematian dirinya sendiri.
Sebab, menurut mereka, memikirkan kematian adalah
sesuatu yang tidak berguna,bahkan menyakitkan. Bentuk kesadaran kematian kedua adalah
kesadaran yang teraktualisasi. Kesadaran ini muncul pada saat seseorang
memikirkan pengaruh kematian terhadap kehidupannya. Biasanya, kesadaran ini
berkaitan dengan situasi dan proses dalam hidup.
Dengan demikian, ketakutan akan kematian
tidak lain hanyalah kecemasan psikologis yang di getarkan oleh keinginan
personal yanng bergerak kearah kesendirian dan keberpisahan. Ketergantungan
pada orang lain dalam pandangannya tidak lain hanyalah ancaman intikas dan
kembali pada penyatuan atau kembali ke rahim ibu. Seolah-olah risiko terkena
bahaya kehilangan diri adalah kematian itu sendiri.
b.
PENTINGNYA MENGINGAT MATI DAN INDIKASI
METAFISIS KETAKUTAN AKAN MATI
Mengingat mati mungkin bagi sebagian orang
justru akan menimbulkan ketakutan,depresi, dan berbagai emosi negatif lainnya.
Kemungkinan besar, hal inilah yang menyebabkan kebanyakan orang menghindari
untuk berpikir kematian. Akibatnya, banyak orang yang menyibukkan dirinya
dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian.
8
Paradigma kekekalan hadir dan mengemuka
dalam alam pikiran manusia tidak lain karena mereka tidak mampu menerima secara
lapang dada takdir dramatis yang menyakitkan
ini bagi diri mereka. Kita takut mati karena
tidak ingin semua yang ada dalam kematian mat, atau karena tidak menginginkan
ketiadaan (kenihilan) menjadi destinasi akhi manusia. Inilah yang mendorong
sebagian ilmuwan untuk menyatakan bahwa ketakutan akan kematian merupakan
petunjuk ke arah kekekalan, sebab ada prinsip eksistensialis ketiadaan di dalam
kedalaman diri manusia yang menolak kematian.
Oleh karena itu, agar kita ingat kepada
kematian dan dapat berdampak positif pada perilaku, hendaknya kosongkan hati
dan pikiran. Lalu , fokus pada ingatan akan kematian. Jika ingatan akan
kematian sudah menusuk ke dalam hati, segala keinginan akan kenikmatan dan
kesenangan duniawi pasti akan sirna dari hatinya. Cara yang mudah untuk
menciptakan kondisi tersebut adalah sering-sering mengingat sahabat dan
keluarga yang telah meninggal dunia. Renungkanlah bahwa suatu saat kita akan
mati dan menyusul mereka. Kemudian, jasad kita pun akan membusuk seperti
mereka.
III.
KEMATIAN DAN PASCAKEMATIAN DENGAN BERBAGAI
PRESPEKTIF
a)
PRESPEKTIF MANUSIA PRIMITIF
Takut, sebagaimana dikatakan Lucretius,
seorang penyair dan filsuf Romawi Kuno,(99-55 SM), adalah induk dewa-dewa yang
pertama-tama (dipertuhankan), terutama takut mati. Alasannya, kehidupan manusia
primitif dikerumuni dengan ratusan bahaya yang mengintai nyawa mereka. Jarang
sekali di antara mereka yang menemui ajal karena faktor alami ketuaan.
9
Akan
tetapi jauh sebelum gejala ketuaan merayap dalam tubuh, banyak manusia primitif
yang meninggal karena salah satu diantara sekian faktor kematian, diantaranya
yang paling sering adalah serangan ganas atau penyakit aneh yang menghancurkan
tubuh. Dari sini, manusia primitif meyakini bahwa kematian bukanlah fenomena
alam, akan tetapi mereka menisbatkannya sebagai ulah/perbuatan eksisten-eksisten
di luar alam (metafisik).
Manusia primitif mengalami shock dan
ketakutan yang luar biasa ketika menyaksikan orang-orang yang mereka ketahui
pasti jatidiri mereka meninggal dunia. Mereka mengubur orang-orang ati ereka
dengan tangan mereka sendiri demi memastikan bahwa mereka tidak kembali. Dan
bersama jasad mayit tersebut mereka kubur juga bergbagai jenis makanan dan
kebutuhan-kebutuhan lain si mayit semasa hidupnya dengan harapan agar ia tidak
kembali lagi dan menumpahkan kutukannya paa manusia yang masih hidup. Bahkan
terkadang rumah yang menjadi tempat kemtaian si mayit dibirkan kosong untuk si
mayit, dan keluarga yang masih hidp pindah kerumah lain. Karena itu, dalam
teologi primitif tidak ditemukan batasan definitif dan destingtif dari segi
spesies yang membedakan antara Tuhan dan Manusia. Menurut kepercayaan bangsa
yunani kuno misalnya, para leluhur adalah dewa (Tuhan), dan para dewa adalah
leluhur.
b)
PRESPEKTIF BANGSA SUMERIA
Sebagai hipotesa awal bisa kita katakan
bahwa bangsa sumeria mempercayai kehidupan akhirat, sebab dalam situs-situs
arkeologis kuburan mereka ditemukan fosil-fosil makanan dan peralatan
sehari-hari yang ikut dikubur bersama mayit.
Namun, persis sebagaimana persepsi bangsa
Yunani, bangsa sumeria pun memperesepsikan kehidupan akhirat sebagai “alam
serba gelap” yang dihuni oleh spektrum-spektrum kesedihan dan semua mayit akan
jatuh kesana, apa pun status mereka tanpa ada perbedaan perlakuan diantara
mereka.
Wacana
tentang surga-neraka dan kenikmatan abadi penderitaan abadi, masih belum
terbentk dalam alam pikiran mereka. Selain itu, mereka juga tidak melakukan
ritual sembahyang dan persembahan kurban demi memperoleh kenikmatan abadi di
kehidupan akhirat, akan tetapi mereka melakkannya demi memperoleh kenikmatan
material yang konkret dalam kehidupan dunia.
c) PRESPEKTIF AGAMA YAHUDI
Di dalam agama yahudi terdapat berbagai
sekte-sekte pada pembahasan kali ini
sekte farisi mempercayai hari kebangkitan, neraka surga, hidup kekal di hari
kemudian, dan kedatangan kerajaan Almasih menjelang hari kebinasaan Alam
Seemesta. Sementara sekte saduki berpendirian bahwa hal-hal tersebut tidak
perlu di perbincangkan karena tidak ada satu pun yang dapat di ketahui. Dalam
tinjauan filsafat, pendirian ini disbut agnoticism.
Sekte ketiga yang mewarnai agama Yahudi adalah sekte Essensia. Mereka sangat
ketat memegang syariat Musa, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis
resmi. Mereka hidup membujang asketik( seperti halnya kaum Sufi dalam tradisi
islam). Mereka menanti-nati turunnya Almasih untuk membangun kerajaan langit di
bumi, dimana manusia dapat menikmati keadilan dan persamaan di dalamnya dan hanya
orang-orang yang hidupnya bersih dan suci saja yang di perkenankna memasukinya.
d) PRESPEKTIF AGAMA KRISTEN
Tidak diragukan lagi bahwa agama Kristen
meyakini hari akhir sebagai doktrin utama mereka. Ia bahkan memiliki sejumlah
kosakata untuk membahasakan keyakinan ini, sebagaiman yang di lansir dalam
berbagai Injil, antara lain : kerajaan Allah,
kehidupan abadi, jahanam, neraka, kegelapan siksa, hari penghakiman (Judgement day) , juga hari kedatangan
kembali Yesus Kristus bersama malikat Tuhan; namun kita tidak dapat memastikan
kapan? Juga apakah yang dimaksud kiamat disini adalah hari kiamat ataukah hari
kebangkitannya kembali tiga hari setelah dikubur.
Agama kristen (Gereja) berusaha memenuhi
semua kebutuhan ini dengan menawarkan doktrin kekekalan jiwa yang ditakdirkan
harus menghadapi persidangan Hari Perhitungan dengan menerima vonis antara
dilemparkan ke neraka untk selama-lamanya atau selamat dan memperoleh
kenikmatan abadi bersama Gereja yang membekali jiwa lewat upacara-upacra sakra
men dengan jaminan kasih dan berkah Tuhan yang melingkupi dunia dengan kematian
juru selamatnya, Kristus Yesus.
e)
PREPESKTIF AGAMA ISLAM
Syaikh Murtadha Muthahhari berulangkali
menyinggung dan menekankan pentingnya penelitian mengenai keyakinan akan
kebangkitan kembal dan hal-hal terkait seperti penelitian tentang pengaruh
keyakinan akan qadha’,qadhar dan syafaat dalam kemajuan dan keterpurukan
bangsa-bangsa di dunia.
Kaum
muslimin menganggap penderitaan dan kesulitan yang menimpa mereka merupakan
buah takdir(qadar) yang harus mereka tanggung, sebab mereka memandang bahwa
usaha dan pengetahuan manusia tidak memilki pengaruh apa-apa.
Para pengikut Muhammad tidak menjalankan
prinsip “ namun mereka berkeyakinan sebaliknya. Karena itulah, salib bisa
mengahpus bulan sabit.”
Al-qur’an
merupakan media terbaik yang paling representif dalam mengungkapkan Islsm
mengenai kematian dan pascakematian. Al-qur’an memberikan perhatian yang cukup
impresif pada masalh ini, sehingga memberi kesan tersendiri akan urgensi
masalah ini pada kehidupan individu dan masyarakat(bangsa). Bahkan, Al-Qur’an
sering menyandingkan antara keimanan pada Allah an keimanan pada hari akhir,
sehingga sekali lagi, mengesankan bahwa keimanan pada Allah saja belum
cukup(bagi individu dan masyarakat/bangsa) dalam mewujudkan kesempurnaan
mental, ketenangan jiwa, dan kesalehan moral serta perilaku tanpa disertai
keimanan pada hari akhir.
IV.
PROSES KEMATIAN DAN KEHIDUPAN SESUDAH MATI
Proses datangnya kematian terlebih dahulu
diawali dengan datangnya peringatan-peringatan kepada kita. Kemudian, sakaratul maut tiba dan roh pun dicabut
dari jasad.
·
Peringatan
Sering kali kita dikejutkan oleh kematian
orang-orang di sekeliling kita, terutama kematian yang bersifat mendadak.
Misalnya, karena kecelakaan, tenggelam, bencana alam, atau bunuh diri.
Sebaliknya, kita lebih memaklumi sebuah kematian yang terjadi pada orang lanjut
usia atau orang yang sakit-sakitan. Kita akan lebih siap jika mendengar kabar
tersebut.
Imam Al-Qurthubi menyebutkan sebuah riwayat
tentang seorang nabi bertanya epada Malaikat Maut, “ Apakah kamu punya utusan
yang kamu kirim kepada manusia agar mereka waspada kepada kamu ? ‘Malaikat Maut
menjawab ,’Benar. Utusan ku banyak sekali seperti
musibah,penyakit,uban,perasaan
bingung,perubahan penglihatan, dan masih banyak lagi. Itu semua adalah utusanku
tersebut, tetapi beum juga mau bertobat maka sebelum mencabut nyawanya, aku
sendiri yang akan turun bertindak selaku utusan dan pemberi peringatan yang
terakhir. Sebab, ia sudah kebal terhadap semua yang aku utus”.
·
Sakaratul Maut
Imam Al-Ghazali melkiskan bahwa sakaratul
maut aalah ungkapan tentang rasa sakit yang menyerang inti jiwa dan menjalar ke
seleruh bagian jiwa. Dengan begitu, tidak ada lagi satu pun bagian jiwa yang
terbebas dari rasa sakit tersebut berbeda dengan sakit lainnya. Misalnya,
ketika tertusuk duri, rasa sakitnya hanya menjalar pada bagian jiwa yang
terletak di anggota badan yang tertusuk. Begitu juga dengan rasa sakit karena
tersayat pisau. Pengaruh sakitnya hany akan menimpa bagian tubuh yang terluka.
·
Keadaan keluarnya roh orang mukmin dan kafir
Roh orang yang saleh begitu keluar dari
jasadnya, akan disambut oleh malaikat yang kemudian membawanya naik. Sedangkan,
ketika seorang kafir yang dalam keadaan kritis, malaikat datang kepadanya
dengan membawa kain wol yang di dalamnya api.
Demikian lah kondisi roh orang beriman dan
roh orang kafir ketika keluar dari jasadnya. Ketika membaca bahasan ini,
terlintas betapa bahagia dan indahnya keadaan keluarnya roh para mukmin.
Malaikat memberikan perlakuan sebaik-baiknya dan memuliakannya.
Sebaliknya, roh orang kafir diperlakukan dengan suburuk-buruknya
perlakuan. Padahal, semua ini hanyalah kondisi sesaat setelah keluar dari jasad.
·
Alam Kubur
Setelah roh dibawa oleh malaikat ke langit,
jasadnya yang tertinggal akan segera di masukkan ke dalam liang lahat. Inilah
proses selanjutnya yang harus di lewati semua yang telah meninggal. Lalu,
bagaimanakah keadaan jenazah setelah diangkat rohnya? Dalam hadits Rasulullah
SAW menjelaskan bagaimana keadaan jenazah orang beriman dan orang kafir ketika
hendak dibawa ke liang lahat. Pada saat tersebut, jenazah orang beriman ingin
segera sampai ke kuburnya. Sebliknya, jenazah orang kafir dan pendurhaka enggan
di bawa ke kuburnya. Hal itu disebabkan orang beriman tahu bahwa ia akan sampai
kepada kebahagiaan yang kekal dan tidak akan lagi menemui fitnah, kesusahan,
msibah dan masalah. Sedangkan, orang-orang yang banyak berbuat jahat takut
untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama di dunia.
Ketika di dalam kubur jasad orang mukmin
akan mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan sampai nanti pada hari kiamat,
sedangkan jasad orang-orang kafir akan di makan oleh ular-ular dan binatang-binatang
yang ada di dalam kubur dengan menyemburkan hawa panas sebagai siksaan yang akan mereka dapatkan
semua itu akan berlangsung hingga hari
kiamat tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar