Senin, 06 April 2015

Taqdir



Pengertian Taqdir
          Yang dimaksud dengan istilah Taqdir adalah Qadar(Al-qadar khairuhu wa syarruhu) atau Qadha’ dan Qadar( Al-Qadha’ wal-Qadar). Secara etimologis Qadha’ adalah bentuk masdhar dari kata kerja qadha yang berarti berkehendak atau ketetapan hukum. Dalam hal ini Qadha’ adalah kehendak atau ketetapan hukum Allah SWT terhadap segala sesuatu. Sedangkan Qadar secara etimologis adalah bentuk masdhar dari qadara yang berarti ukuran atau ketentuan Allah SWT terhadap segala sesuatunya. Menurut terminologis  ada Ulama yang berpendapat kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama, dan ada pula yang membedakannya tergantung bagaimana mendefinisikannya.
Beberapa Tingkatan Takdir
          1. Al-ilmu , Allah SWT Maha Mengetahui segala sesutau. Dia mengetahui apa yang telah terjadi , yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Tidak satu pun luput dari ilmu Allah SWT.
            2. Al-Kitabah , Allah SWT yang Maha Mengetahui telah menuliskan segala sesuatu di lauh mahfuzh, dan tulisan itu tetap ada sampai hari Kiamat. Apa yang telah terjadi pada masa yang lalu, dan apa yang terjadi sekarang, dan apa yang terjadi pada masa yang akan datang sudah dituliskan oleh Allah SWT di lauh mahfuzh.
                                                                                                                                                3
            3. Al- Masyi-ah , Allah SWT  mempunyai kehendak terhadap segala sesuatu yang dilangit dan di bumi. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Apa – apa yang di kehendaki oleh Allah pasti akan terjadi. Dan apa-apa yang tidak di kehendaki oleh Allah SWT pasti tidak akan terjadi. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan masyiatullah yang mutlak. Artinya kalau Allah mengkhendaki sesutu yang tidak bisa menghalangi kehendak-Nya itu. Begitu juga sebaliknya, kehendak siapa pun tidak akan terjadi kalau tidak di kehendaki oleh Allah SWT.
            4. Al- Khalq , Allah SWT menciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu selain Allah Yang Maha Mencipta adalah makhluk.


 Hasil gambar untuk takdir


Contoh Takdir (Kematian)
      I.            PENCIPTAAN MANUSIA
A.  Proses Penciptaan Manusia
Proses penciptaan manusia secara detail telah di jelaskan oleh Allah SWT dalam kitab-nya. Dia berfirman :
“ padahal sesungguhnya, Allah SWT menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (sulaalatin min thiin) yang kemudian di jadikan-Nya saripati itu air mani (nuthfah) (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (qaraarin makiin), kemudian air mani itu di jadikan-Nya segumpal darah (‘alaqah), lalu segumpal darah itu menjadi segumpal daging (mudghah), dan segumpal daging it menjadi tulang belulang (‘izhaam), lalu tulang belulang itu dibungkus-Nya dengan daging (lahma) , kemudian Dijadikan-Nya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik.” (QS. Al-mu’minuun :12-14).
                                                                                                                                          
Itulah tiga fase penciptaan manusia menurut Al-Qur’an. Lalu bagaimanakah ilmu pengetahuan membuktikannya?
Williams P., penulis buku “ Basic Human Embryology” menyebutkan bahwa kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan, yakni pre-embrionik (dua setengah minggu pertama), embrionik (sampai akhir minggu kedelapan), dan janin (dari minggu kedelapan sampai kelahiran) inilah tiga kegelapan yang dimaksud oleh Allah SWT dalam ayat tersebut.
B.   Makna Kehadiran Manusia
Sungguh, manusia diciptakan oleh Allah SWT di dunia ini bukan secara main-main. Oleh karena itu, penciptaan manusia di dunia ini memiliki tujuan yang pasti. Sebab, Allah SWT telah memberikan amanah atau tugas utama kepada kita. Yakni, mengabdi dan beribadah hanya kepadanya. Kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi telah di muliakan oleh Allah SWT dengan berbagai nikmat-Nya. Bahkan, dia telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diantara para makhluk-Nya. Disamping itu, Allah SWT juga meninggikan kedudukan sebagian manusia atas sebagian lainnya. Diantaranya, dengan menjadikan penguasa-penguasa di bumi. Tentu saja semua itu hanya untuk menguji manusia. Agar fungsi dan tujuan penciptaan manusia tersebut dapat dijalankan dengan baik, Allah SWT telah menurunkan petunjuk dan peraturan-peraturan (syari’at) hidup bagi seluruh manusia. Syari’at tersebut disampaikan melalui para nabi dan rasul-Nya. Dengan begitu, manusia akan mendapat petunjuk-Nya dan tidak akan tersesat selama masih mengikuti syari’at-Nya.


                                                                                                                                             
C.    Musibah Sebagai Ujian Bagi Manusia
Setelah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, Allah SWT menganugerahkan berbagai nikmat kepada mereka agar dapat menjalani kehidupan di dunia sebaik-baiknya. Namun, selain nikmat tersebut, Allah SWT juga menimpakan musibah untuk menguji mereka. Apakah dengan musibah tersebut manusia akan tetap beriman atau menanggalkan keimanannya.
Banyak sekali ulama yang memaknai kata musibah. Namun, intinya musibah adalah sesutau yang yang menyakitkan dan dibenci. Sebagian mereka mengatakan bahwa musibah berarti al-baliyyah (ujian) dan semua perkara yang dibenci oleh manusia. Sedangkan, Imam Ibnu Madzhur adalah ad-dhar yang berati kemalangan, musibah dan bencana. Musibah yang menimpa setiap manusia berbeda-beda dan banyak jenisnya. Misalnya, musibah kecil seperti sakit, kegagalan, dan kehilangan harta benda. Kemudian musibah yang paling besar yakni kematian. Inilah musibah yang paling dibenci dan ditakuti oleh semua orang, kecuali mereka yang bertakwa.
Menurut Umar bin Hafidz, ada dua perkara yang kerap menyebabkan manusia di timpa musibah. Pertama, tiadanya penghargaan dan waktu, kesempatan dan umur yang telah dianugerahkan Allah SWT. Kedua, pergaulan dan persaudaraan yang tidak lagi dilandasi itikad baik. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya telah banyak mengingatkan umat agar memanfaatkan waktu dengan maksimal dan mendasari pergaulannya dengan niat yang baik. Namun, sayangnya orang-orang menutup telinganya dan matanya dari peringatan tersebut. Mereka tidak lagi berminat mendengarkan seruan Nabi Muhammad SAW.
                                                                                                                                   
    II.            SELUK BELUK KEMATIAN SERTA PSIKOLOGI KEMATIAN
a.     KESADARAN AKAN KEMATIAN
Shneidman(psikologi asal Amerika Serikat) menyebutkan bahwa dalam sebuah survei, diajukan pertanyaan responden(penjawab dalam kegiatan penelitian). “ seberapa sering anda memikirkan kematian?” Dari seluruh responden yang ada , lebih dari setengahnya mengatakan “ kadang-kadang” , seperempatnya mengatakan “ sering” atau “ sangat sering”, dan seperempatnya lagi mengatakan “jarang” memeikirkan kematian. Kemudian , ketika diajukan pertanyaan , “ Bagaimana perasaan Anda tentang kematian?” lebeih dari setengah total responden mengatakan bahwa pikiran terhadap kematian membuat mereka lebih menghargai hidup dan menikmati kehidupan. Hanya sepertiga dari mereka yang mengatakan bahwa memikirkan kematian membuat mereka takut dan depresi (tertekan).
Takut mati bukanlah ketakutan yang normal, akan tetapi ia merupakan bentuk fbia atau kecemasan yang bercampur dalam satu waktu sekaligus dengan perasaan takut,panik,gentar, dan ngeri. Fobia mati bukanlah kecemasan jauh yang menanti kita di akhir jalan, akan tetapi ia merupakan kecemasan laten yang terpendam di dalam relung-relung perasaan hingga kita nyaris mencium aroma kematian di segala sesuatu. Moro (tokoh asal italia) mencoba menjelaskan kesadaran akan kematian memiliki dua bentuk, yaitu kesadaran laten (tersembunyi) dan kesadaran teraktualisasi.


                                                                                                                                 
Kesadaran kematian yang bersifat laten, timbul ketika seseorang menyadari bahwa semua manusia akan mati. Tetapi, mereka tidak mempunyai pemahaman yang pasti akan kematiannya. Mereka juga jarang memikirkan akan kematian, khususnya kematian dirinya sendiri.
 Sebab, menurut mereka, memikirkan kematian adalah sesuatu yang tidak berguna,bahkan menyakitkan. Bentuk kesadaran kematian kedua adalah kesadaran yang teraktualisasi. Kesadaran ini muncul pada saat seseorang memikirkan pengaruh kematian terhadap kehidupannya. Biasanya, kesadaran ini berkaitan dengan situasi dan proses dalam hidup.
Dengan demikian, ketakutan akan kematian tidak lain hanyalah kecemasan psikologis yang di getarkan oleh keinginan personal yanng bergerak kearah kesendirian dan keberpisahan. Ketergantungan pada orang lain dalam pandangannya tidak lain hanyalah ancaman intikas dan kembali pada penyatuan atau kembali ke rahim ibu. Seolah-olah risiko terkena bahaya kehilangan diri adalah kematian itu sendiri.
b.    PENTINGNYA MENGINGAT MATI DAN INDIKASI METAFISIS KETAKUTAN AKAN MATI
Mengingat mati mungkin bagi sebagian orang justru akan menimbulkan ketakutan,depresi, dan berbagai emosi negatif lainnya. Kemungkinan besar, hal inilah yang menyebabkan kebanyakan orang menghindari untuk berpikir kematian. Akibatnya, banyak orang yang menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian.

                                                                                                                                    8
Paradigma kekekalan hadir dan mengemuka dalam alam pikiran manusia tidak lain karena mereka tidak mampu menerima secara lapang dada takdir dramatis yang menyakitkan
ini bagi diri mereka. Kita takut mati karena tidak ingin semua yang ada dalam kematian mat, atau karena tidak menginginkan ketiadaan (kenihilan) menjadi destinasi akhi manusia. Inilah yang mendorong sebagian ilmuwan untuk menyatakan bahwa ketakutan akan kematian merupakan petunjuk ke arah kekekalan, sebab ada prinsip eksistensialis ketiadaan di dalam kedalaman diri manusia yang menolak kematian.
Oleh karena itu, agar kita ingat kepada kematian dan dapat berdampak positif pada perilaku, hendaknya kosongkan hati dan pikiran. Lalu , fokus pada ingatan akan kematian. Jika ingatan akan kematian sudah menusuk ke dalam hati, segala keinginan akan kenikmatan dan kesenangan duniawi pasti akan sirna dari hatinya. Cara yang mudah untuk menciptakan kondisi tersebut adalah sering-sering mengingat sahabat dan keluarga yang telah meninggal dunia. Renungkanlah bahwa suatu saat kita akan mati dan menyusul mereka. Kemudian, jasad kita pun akan membusuk seperti mereka.
III.            KEMATIAN DAN PASCAKEMATIAN DENGAN BERBAGAI PRESPEKTIF
a)    PRESPEKTIF MANUSIA PRIMITIF
Takut, sebagaimana dikatakan Lucretius, seorang penyair dan filsuf Romawi Kuno,(99-55 SM), adalah induk dewa-dewa yang pertama-tama (dipertuhankan), terutama takut mati. Alasannya, kehidupan manusia primitif dikerumuni dengan ratusan bahaya yang mengintai nyawa mereka. Jarang sekali di antara mereka yang menemui ajal karena faktor alami ketuaan.
                                                                                                                                    9
 Akan tetapi jauh sebelum gejala ketuaan merayap dalam tubuh, banyak manusia primitif yang meninggal karena salah satu diantara sekian faktor kematian, diantaranya yang paling sering adalah serangan ganas atau penyakit aneh yang menghancurkan tubuh. Dari sini, manusia primitif meyakini bahwa kematian bukanlah fenomena alam, akan tetapi mereka menisbatkannya sebagai ulah/perbuatan eksisten-eksisten di luar alam (metafisik).
Manusia primitif mengalami shock dan ketakutan yang luar biasa ketika menyaksikan orang-orang yang mereka ketahui pasti jatidiri mereka meninggal dunia. Mereka mengubur orang-orang ati ereka dengan tangan mereka sendiri demi memastikan bahwa mereka tidak kembali. Dan bersama jasad mayit tersebut mereka kubur juga bergbagai jenis makanan dan kebutuhan-kebutuhan lain si mayit semasa hidupnya dengan harapan agar ia tidak kembali lagi dan menumpahkan kutukannya paa manusia yang masih hidup. Bahkan terkadang rumah yang menjadi tempat kemtaian si mayit dibirkan kosong untuk si mayit, dan keluarga yang masih hidp pindah kerumah lain. Karena itu, dalam teologi primitif tidak ditemukan batasan definitif dan destingtif dari segi spesies yang membedakan antara Tuhan dan Manusia. Menurut kepercayaan bangsa yunani kuno misalnya, para leluhur adalah dewa (Tuhan), dan para dewa adalah leluhur.
b)      PRESPEKTIF BANGSA SUMERIA
Sebagai hipotesa awal bisa kita katakan bahwa bangsa sumeria mempercayai kehidupan akhirat, sebab dalam situs-situs arkeologis kuburan mereka ditemukan fosil-fosil makanan dan peralatan sehari-hari yang ikut dikubur bersama mayit.

                                                                                                                                                                                                                                                                                   
Namun, persis sebagaimana persepsi bangsa Yunani, bangsa sumeria pun memperesepsikan kehidupan akhirat sebagai “alam serba gelap” yang dihuni oleh spektrum-spektrum kesedihan dan semua mayit akan jatuh kesana, apa pun status mereka tanpa ada perbedaan perlakuan diantara mereka.
            Wacana tentang surga-neraka dan kenikmatan abadi penderitaan abadi, masih belum terbentk dalam alam pikiran mereka. Selain itu, mereka juga tidak melakukan ritual sembahyang dan persembahan kurban demi memperoleh kenikmatan abadi di kehidupan akhirat, akan tetapi mereka melakkannya demi memperoleh kenikmatan material yang konkret dalam kehidupan dunia.
c)      PRESPEKTIF AGAMA YAHUDI
Di dalam agama yahudi terdapat berbagai sekte-sekte  pada pembahasan kali ini sekte farisi mempercayai hari kebangkitan, neraka surga, hidup kekal di hari kemudian, dan kedatangan kerajaan Almasih menjelang hari kebinasaan Alam Seemesta. Sementara sekte saduki berpendirian bahwa hal-hal tersebut tidak perlu di perbincangkan karena tidak ada satu pun yang dapat di ketahui. Dalam tinjauan filsafat, pendirian ini disbut agnoticism. Sekte ketiga yang mewarnai agama Yahudi adalah sekte Essensia. Mereka sangat ketat memegang syariat Musa, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis resmi. Mereka hidup membujang asketik( seperti halnya kaum Sufi dalam tradisi islam). Mereka menanti-nati turunnya Almasih untuk membangun kerajaan langit di bumi, dimana manusia dapat menikmati keadilan dan persamaan di dalamnya dan hanya orang-orang yang hidupnya bersih dan suci saja yang di perkenankna memasukinya.


d)     PRESPEKTIF AGAMA KRISTEN
Tidak diragukan lagi bahwa agama Kristen meyakini hari akhir sebagai doktrin utama mereka. Ia bahkan memiliki sejumlah kosakata untuk membahasakan keyakinan ini, sebagaiman yang di lansir dalam berbagai Injil, antara lain : kerajaan Allah, kehidupan abadi, jahanam, neraka, kegelapan siksa, hari penghakiman (Judgement day) , juga hari kedatangan kembali Yesus Kristus bersama malikat Tuhan; namun kita tidak dapat memastikan kapan? Juga apakah yang dimaksud kiamat disini adalah hari kiamat ataukah hari kebangkitannya kembali tiga hari setelah dikubur.
Agama kristen (Gereja) berusaha memenuhi semua kebutuhan ini dengan menawarkan doktrin kekekalan jiwa yang ditakdirkan harus menghadapi persidangan Hari Perhitungan dengan menerima vonis antara dilemparkan ke neraka untk selama-lamanya atau selamat dan memperoleh kenikmatan abadi bersama Gereja yang membekali jiwa lewat upacara-upacra sakra men dengan jaminan kasih dan berkah Tuhan yang melingkupi dunia dengan kematian juru selamatnya, Kristus Yesus.
e)     PREPESKTIF AGAMA ISLAM
Syaikh Murtadha Muthahhari berulangkali menyinggung dan menekankan pentingnya penelitian mengenai keyakinan akan kebangkitan kembal dan hal-hal terkait seperti penelitian tentang pengaruh keyakinan akan qadha’,qadhar dan syafaat dalam kemajuan dan keterpurukan bangsa-bangsa di dunia.
            Kaum muslimin menganggap penderitaan dan kesulitan yang menimpa mereka merupakan buah takdir(qadar) yang harus mereka tanggung, sebab mereka memandang bahwa usaha dan pengetahuan manusia tidak memilki pengaruh apa-apa.
                                                                                                                                     
Para pengikut Muhammad tidak menjalankan prinsip “ namun mereka berkeyakinan sebaliknya. Karena itulah, salib bisa mengahpus bulan sabit.”
            Al-qur’an merupakan media terbaik yang paling representif dalam mengungkapkan Islsm mengenai kematian dan pascakematian. Al-qur’an memberikan perhatian yang cukup impresif pada masalh ini, sehingga memberi kesan tersendiri akan urgensi masalah ini pada kehidupan individu dan masyarakat(bangsa). Bahkan, Al-Qur’an sering menyandingkan antara keimanan pada Allah an keimanan pada hari akhir, sehingga sekali lagi, mengesankan bahwa keimanan pada Allah saja belum cukup(bagi individu dan masyarakat/bangsa) dalam mewujudkan kesempurnaan mental, ketenangan jiwa, dan kesalehan moral serta perilaku tanpa disertai keimanan pada hari akhir.
IV.            PROSES KEMATIAN DAN KEHIDUPAN SESUDAH MATI
Proses datangnya kematian terlebih dahulu diawali dengan datangnya peringatan-peringatan kepada kita. Kemudian, sakaratul maut tiba dan roh pun dicabut dari jasad.
·         Peringatan
Sering kali kita dikejutkan oleh kematian orang-orang di sekeliling kita, terutama kematian yang bersifat mendadak. Misalnya, karena kecelakaan, tenggelam, bencana alam, atau bunuh diri. Sebaliknya, kita lebih memaklumi sebuah kematian yang terjadi pada orang lanjut usia atau orang yang sakit-sakitan. Kita akan lebih siap jika mendengar kabar tersebut.


                                                                                                                                  
Imam Al-Qurthubi menyebutkan sebuah riwayat tentang seorang nabi bertanya epada Malaikat Maut, “ Apakah kamu punya utusan yang kamu kirim kepada manusia agar mereka waspada kepada kamu ? ‘Malaikat Maut menjawab ,’Benar. Utusan ku banyak sekali seperti
musibah,penyakit,uban,perasaan bingung,perubahan penglihatan, dan masih banyak lagi. Itu semua adalah utusanku tersebut, tetapi beum juga mau bertobat maka sebelum mencabut nyawanya, aku sendiri yang akan turun bertindak selaku utusan dan pemberi peringatan yang terakhir. Sebab, ia sudah kebal terhadap semua yang aku utus”.
·         Sakaratul Maut
Imam Al-Ghazali melkiskan bahwa sakaratul maut aalah ungkapan tentang rasa sakit yang menyerang inti jiwa dan menjalar ke seleruh bagian jiwa. Dengan begitu, tidak ada lagi satu pun bagian jiwa yang terbebas dari rasa sakit tersebut berbeda dengan sakit lainnya. Misalnya, ketika tertusuk duri, rasa sakitnya hanya menjalar pada bagian jiwa yang terletak di anggota badan yang tertusuk. Begitu juga dengan rasa sakit karena tersayat pisau. Pengaruh sakitnya hany akan menimpa bagian tubuh yang terluka.
·         Keadaan keluarnya roh orang mukmin dan kafir
Roh orang yang saleh begitu keluar dari jasadnya, akan disambut oleh malaikat yang kemudian membawanya naik. Sedangkan, ketika seorang kafir yang dalam keadaan kritis, malaikat datang kepadanya dengan membawa kain wol yang di dalamnya api.
Demikian lah kondisi roh orang beriman dan roh orang kafir ketika keluar dari jasadnya. Ketika membaca bahasan ini, terlintas betapa bahagia dan indahnya keadaan keluarnya roh para mukmin. Malaikat memberikan perlakuan sebaik-baiknya dan memuliakannya.
                                                                                                                               
Sebaliknya, roh orang kafir  diperlakukan dengan suburuk-buruknya perlakuan. Padahal, semua ini hanyalah kondisi sesaat setelah keluar dari jasad.
·         Alam Kubur
Setelah roh dibawa oleh malaikat ke langit, jasadnya yang tertinggal akan segera di masukkan ke dalam liang lahat. Inilah proses selanjutnya yang harus di lewati semua yang telah meninggal. Lalu, bagaimanakah keadaan jenazah setelah diangkat rohnya? Dalam hadits Rasulullah SAW menjelaskan bagaimana keadaan jenazah orang beriman dan orang kafir ketika hendak dibawa ke liang lahat. Pada saat tersebut, jenazah orang beriman ingin segera sampai ke kuburnya. Sebliknya, jenazah orang kafir dan pendurhaka enggan di bawa ke kuburnya. Hal itu disebabkan orang beriman tahu bahwa ia akan sampai kepada kebahagiaan yang kekal dan tidak akan lagi menemui fitnah, kesusahan, msibah dan masalah. Sedangkan, orang-orang yang banyak berbuat jahat takut untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama di dunia.
Ketika di dalam kubur jasad orang mukmin akan mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan sampai nanti pada hari kiamat, sedangkan jasad orang-orang kafir akan di makan oleh ular-ular dan binatang-binatang yang ada di dalam kubur dengan menyemburkan hawa panas  sebagai siksaan yang akan mereka dapatkan semua itu akan  berlangsung hingga hari kiamat tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar