PENDEKATAN SOCIAL EMOSIONAL LEARNING (SEL)
Menurut Maurice & Roger (Larry, 2008:250),
melalui pendekatan Social and Emotional Learning (SEL), maka pengembangan aspek afektif peserta didik dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan melatih mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan pengelolaan
emosi diri sendiri dan keterampilan menjalin hubungan dengan orang lain. Jika
mengacu pada penelitian-penelitian mengenai kriteria keefektifan pembelajaran
di sekolah, menurut Kyle (1985) ada lima yaitu: (1) iklim sekolah yang kondusif
untuk belajar; (2) adanya harapan dan keyakinan guru bahwa semua siswa dapat
berprestasi; (3) penekanan pada kemampuan dasar (basic skills) dan tingkat time
on task siswa yang maksimal; (4) sistem instruksional (pembelajaran) yang
mempunyai keterkaitan jelas antara tujuan, pemantauan, dan penilaiannya (assessment); dan (5) kepemimpinan kepala
sekolah yang memberi insentif untuk pembelajaran. Kelima faktor ini merupakan
prasyarat untuk berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif, yang
implementasi langsungnya masih harus dilihat melalui desain pembelajaran dalam
bentuk strategi yang tepat dan iklim pembelajaran yang kondusif.
2.Model Pembelajaran SEL
a. Strategi Pembelajaran SEL:
Strategi pembelajaran SEL dilakukan dengan cara: (1) menerapkan metode belajar yang melibatkan partisipasi aktif murid,
yaitu metode yang dapat meningkatkan motivasi murid karena seluruh dimensi
manusia terlibat secara aktif dengan diberikan materi pelajaran yang konkrit,
bermakna, serta relevan dalam konteks kehidupannya (student active learning, contextual learning, inquiry-based learning,
integrated learning); (2) menciptakan lingkungan belajar
yang kondusif (conducive learning
community), sehingga anak
dapat belajar dengan efektif di dalam suasana yang memberikan rasa aman,
penghargaan, tanpa ancaman, dan memberikan semangat; (3) memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sistematis, dan
berkesinambungan dengan melibatkan aspek
knowing the good, loving the good, and acting the good; (4) metode pengajaran yang memperhatikan
keunikan masing-masing anak, yaitu menerapkan kurikulum yang melibatkan
sembilan aspek kecerdasan manusia;
dan (5) seluruh
pendekatan di atas menerapkan prinsip-prinsip developmentally appropriate
practices. (Akif, 2014:45)
b.Model pembelajaran dengan
pendekatan SEL
Semua model pembelajaran yang termasuk dalam
teori konstruktivistik sangat cocok untuk diterapkan pada pembelajaran dengan
pendekatan SEL, diantaranya adalah: (1) Small
Group Discussion (SGD), (2) Role-Play
& Simulation (RPS), (3) Case
Study (CS), (4) Discovery Learning
(DL), (5) Self-Directed Learning
(SDL), (6) Cooperative Learning (CL),
(7) Collaborative Learning (CbL), (8)
Contextual Learning (CL), (9) Project Based Learning (PjBL), (10) Problem Base Learning (PBL), (11) Inquiry Learning (IL).
Semua model belajar tersebut dilaksanakan
dengan pembelajaran kooperatif yaitu
cara belajar yang menggunakan kelompok kecil sehingga siswa bekerja dan belajar
satu sama lain untuk mencapai tujuan kelompok. Adapun keunggulan strategi
pembelajaran kooperatif adalah:
1)
Siswa tidak terlalu tergantung pada guru, karena siswa
dapat menambah rasa percaya diri melalui peningkatan kemampuan berfikir,
kemampuan mengungkapkan gagasan secara
verbal, dapat membandingkan ide-ide orang lain, dapat menemukan informasi dari
berbagai sumber,dan belajar dari siswa yang lain.
2)
Siswa dapat berlatih tanggungjawab, belajar
berkomunikasi pada orang lain, dapat berlatih bekerjasama dengan orang lain,
dapat menghargai waktu, dapat menghargai orang lain, dapat toleran terhadap
perbedaan pendapat.
3)
Siswa mampu berlatih memecahkan masalah abstrak menjadi
nyata, dan dapat meningkatkan motivasi berfikir yang berguna untuk kehidupan
jangka panjang.
c.Karakteristik Model Pembelajaran SEL
Model pembelajaran Sosial Emosional (SEL) menurut Casel
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1). Kesadaran diri, indikatornya meliputi: (1) mengenal dan memberi nama emosi seseorang; (2) memahami
alasan dan keadaan untuk merasakan sebagai orang yang melakukan; (3)
mengenal dan memberi nama emosi orang
lain; (4) mengenal kekuatan dan memobilisasi perasaan positif tentang diri
sendiri, sekolah, keluarga dan dukungan jaringan; (5) mengetahui kebutuhan dan
nilai-nilai seseorang; (6) mengamati diri sendiri secara tepat; (7) percaya
akan keberhasilan pribadi; dan (8) memiliki rasa spiritualitas.
2). Kepedulian sosial, indikatornya meliputi: (1) menghargai kemajemukan atau
keberagaman; (2) menunjukkan
rasa hormat kepada orang lain; (3) mendengarkan dengan hati-hati dan akurat;
(4) meningkatkan empati dan kepekaan terhadap perasaan orang lain.
3). Manajemen
diri dan organisasi, indikatornya
meliputi: (1) mengungkapkan secara lisan dan
mengatasi kecemasan, kemarahan, dan depresi;
(2) mengendalikan kata hati, kemarahan,
dan merusak diri sendiri, perilaku antisocial;
(3) mengelola stres pribadi dan orang lain; (4) memfokuskan pada tugas-tugas yang ada; (5) menetapkan
tujuan jangka pendek dan jangka panjang; (6) merencanakan secara bijaksana dan menyeluruh; (7) memodifikasi kinerja
berdasarkan umpan balik; (8) memobilisasi motivasi positif; (9) mengaktifkan
harapan dan optimis; dan (10) bekerja menuju status kinerja yang optimal.
4). Bertanggung
jawab dalam pengambilan keputusan, indikatornya
mencakup: (1) menganalisa situasi
secara tepat dan mengidentifikasi masalah dengan jelas; (2) melatih dalam pengambilan keputusan sosial dan ketrampilan pemecahan
masalah; (3) menanggapi secara baik dalam cara pemecahan masalah terhadap
hambatan orang lain; (4) melakukan
evaluasi diri dan refleksi; dan (5) melakukan diri sendiri dengan tanggungjawab
pribadi, moral, dan etika.
5). Mengelola hubungan, indikatornya meliputi: (1) mengelola emosi dalam
hubungan, harmonisasi perasaan dan sudut pandang yang beragam; (2) menunjukkan
kepekaan terhadap isyarat sosial-emosional; (3) mengekspresikan emosi secara efektif; (4) mengkomunikasikan
secara jelas; (5) melibatkan orang lain dalam
situasi social; (6) membangun hubungan; (7) melakukan kerja secara kooperatif; (8) melatih sikap tegas, kepemimpinan, dan kepercayaan; (9) mengelola
konflik, negosiasi, dan penolakan; dan (10) menyediakan, mencari bantuan
(Maurice dalam Nucci,2008: 251).
d. Langkah-langkah
Pembelajaran AIK dengan Pendekatan SEL
Langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran AIK
dengan pendekatan SEL, adalah:
1)
Menentukan tujuan pembelajaran
Dosen harus dapat melaksanakan pembelajaran secara
sistematis sesuai dengan urutan kompetensi di dalam standar isi mata kuliah AIK.
Langkah pertama, dosen melihat dahulu standar isi mata kuliah AIK. Berdasarkan
Standar kompetensi lulusan dan kompetensi dasar setiap pokok bahasan, dosen
dapat menentukan tujuan pembelajaran
kognitif, afektif, dan psikomotorik yang akan dicapai melalui materi dan proses
pembelajaran.
2)
Menentukan nilai-nilai target berdasarkan standar capaian kompetensi
Nilai-nilai target ini merupakan nilai-nilai kebaikan
yang menunjang pembentukan karakter dan akhlak mulia. Setelah nilai target
ditentukan selanjutnya dikembangkan indikator capaian hasil belajar yang
meliputi pengetahuan tentang nilai-nilai tersebut, dorongan hati nurani untuk
mengamalkannya, dan kebiasaan untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam
kehidupan sehari-hari.
3)
Menggunakan pendekatan terintegrasi
Mengembangkan materi pembelajaran dengan pendekatan
terintegrasi, yaitu perpaduan antara
materi AIK dengan nilai-nilai luhur untuk dapat dihayati, diamalkan sehingga
menjadi kebiasaan positif siswa. Dosen dituntut mahir dalam memadukan
nilai-nilai target ke dalam materi pembelajaran sehingga sesuai untuk mencapai
kompetensi mata kuliah AIK dalam membentuk karakter siswa. Misalnya: anak tidak
sekedar pandai membaca al Qur’an tetapi siswa juga mampu membentuk pribadi yang
jujur, dermawan, taat beribadah, dsb.
4)
Menggunakan metode yang komprehensif
Metode komprehensif merupakan perpaduan antara dua
metode tradisional yaitu inkulkasi (penanaman nilai) dan keteladanan, serta dua
metode kontemporer yaitu fasilitasi (memberikan kesempatan kepada murid untuk
berlatih membuat keputusan moral) dan mengembangkan keterampilan hidup (antara
lain berpikir kritis, berpikir kreatif, berkomunikasi secara efektif, dan
mengatasi konflik)
5) Menentukan strategi pembelajaran
Ada beragam strategi pembelajaran yang dapat
menciptakan hasil belajar yang komprehensif (meliputi pemikiran moral, perasaan
atau afek moral, dan perilaku bermoral). Kirschenbaum (1995:60-240) menyajikan
ada 34 strategi metode inkulkasi (penanaman nilai), 21 strategi metode
keteladanan nilai, 30 strategi metode fasilitasi nilai, dan 10 strategi metode
pengembangan keterampilan hidup (soft
skills). Dalam memilih strategi pembelajaran untuk pembentukan karakter dan
akhlak, harus diingat bahwa strategi ini harus dapat menciptakan situasi
belajar yang menyenangkan, aktif, kreatif, bertanggung jawab, dan saling
bekerja sama.
6) Merancang kegiatan
Kegiatan yang
dapat mengembangkan keterampilan bidang studi PAI dan aktualisasi nilai-nilai
target. Melalui kegiatan menyimak (mendengarkan dengan penuh pemahaman),
membaca, merangkum, mempresentasikan, bercerita, bermain dan bernyanyi, bermain
peran, dan sebagainya.
Mbak, terimakasih.. postingan ini sangat membantu tugas saya..
BalasHapusbolehkah saya meminta daftar pustakanya?
terimakasih atas kesediaan mbak dwy purwaningsih