Senin, 04 Mei 2015

social and emotional learning




 PENDEKATAN SOCIAL EMOSIONAL LEARNING (SEL)

Menurut Maurice & Roger (Larry, 2008:250), melalui pendekatan Social and Emotional Learning (SEL), maka pengembangan aspek afektif peserta didik dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan melatih  mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan pengelolaan emosi diri sendiri dan keterampilan menjalin hubungan dengan orang lain. Jika mengacu pada penelitian-penelitian mengenai kriteria keefektifan pembelajaran di sekolah, menurut Kyle (1985) ada lima yaitu: (1) iklim sekolah yang kondusif untuk belajar; (2) adanya harapan dan keyakinan guru bahwa semua siswa dapat berprestasi; (3) penekanan pada kemampuan dasar (basic skills) dan tingkat time on task siswa yang maksimal; (4) sistem instruksional (pembelajaran) yang mempunyai keterkaitan jelas antara tujuan, pemantauan, dan penilaiannya (assessment); dan (5) kepemimpinan kepala sekolah yang memberi insentif untuk pembelajaran. Kelima faktor ini merupakan prasyarat untuk berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif, yang implementasi langsungnya masih harus dilihat melalui desain pembelajaran dalam bentuk strategi yang tepat dan iklim pembelajaran yang kondusif. 



2.Model Pembelajaran SEL
a. Strategi Pembelajaran SEL:
Strategi pembelajaran SEL dilakukan dengan cara: (1) menerapkan metode belajar yang melibatkan partisipasi aktif murid, yaitu metode yang dapat meningkatkan motivasi murid karena seluruh dimensi manusia terlibat secara aktif dengan diberikan materi pelajaran yang konkrit, bermakna, serta relevan dalam konteks kehidupannya (student active learning, contextual learning, inquiry-based learning, integrated learning); (2) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif (conducive learning community), sehingga anak dapat belajar dengan efektif di dalam suasana yang memberikan rasa aman, penghargaan, tanpa ancaman, dan memberikan semangat; (3) memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sistematis, dan berkesinambungan dengan melibatkan aspek  knowing the good, loving the good, and acting the good; (4) metode pengajaran yang memperhatikan keunikan masing-masing anak, yaitu menerapkan kurikulum yang melibatkan sembilan aspek kecerdasan manusia; dan (5) seluruh pendekatan di atas menerapkan prinsip-prinsip developmentally appropriate practices. (Akif, 2014:45)
b.Model pembelajaran dengan pendekatan SEL
Semua model pembelajaran yang termasuk dalam teori konstruktivistik sangat cocok untuk diterapkan pada pembelajaran dengan pendekatan SEL, diantaranya adalah: (1) Small Group Discussion (SGD), (2) Role-Play & Simulation (RPS), (3) Case Study (CS), (4) Discovery Learning (DL), (5) Self-Directed Learning (SDL), (6) Cooperative Learning (CL), (7) Collaborative Learning (CbL), (8) Contextual Learning (CL), (9) Project Based Learning (PjBL), (10) Problem Base Learning (PBL), (11) Inquiry Learning (IL).
Semua model belajar tersebut dilaksanakan dengan pembelajaran  kooperatif yaitu cara belajar yang menggunakan kelompok kecil sehingga siswa bekerja dan belajar satu sama lain untuk mencapai tujuan kelompok. Adapun keunggulan strategi pembelajaran kooperatif adalah:
1)   Siswa tidak terlalu tergantung pada guru, karena siswa dapat menambah rasa percaya diri melalui peningkatan kemampuan berfikir, kemampuan mengungkapkan  gagasan secara verbal, dapat membandingkan ide-ide orang lain, dapat menemukan informasi dari berbagai sumber,dan belajar dari siswa yang lain.
2)   Siswa dapat berlatih tanggungjawab, belajar berkomunikasi pada orang lain, dapat berlatih bekerjasama dengan orang lain, dapat menghargai waktu, dapat menghargai orang lain, dapat toleran terhadap perbedaan pendapat.
3)   Siswa mampu berlatih memecahkan masalah abstrak menjadi nyata, dan dapat meningkatkan motivasi berfikir yang berguna untuk kehidupan jangka panjang.
c.Karakteristik Model Pembelajaran SEL               
Model pembelajaran Sosial Emosional (SEL) menurut Casel memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1). Kesadaran diri, indikatornya meliputi: (1) mengenal dan memberi nama emosi seseorang; (2) memahami alasan dan keadaan untuk merasakan sebagai orang yang melakukan; (3) mengenal  dan memberi nama emosi orang lain; (4) mengenal kekuatan dan memobilisasi perasaan positif tentang diri sendiri, sekolah, keluarga dan dukungan jaringan; (5) mengetahui kebutuhan dan nilai-nilai seseorang; (6) mengamati diri sendiri secara tepat; (7) percaya akan keberhasilan pribadi; dan (8) memiliki rasa spiritualitas.
2). Kepedulian sosial, indikatornya meliputi: (1) menghargai kemajemukan atau keberagaman; (2) menunjukkan rasa hormat kepada orang lain; (3) mendengarkan dengan hati-hati dan akurat; (4) meningkatkan empati dan kepekaan terhadap perasaan orang lain.
3). Manajemen diri dan organisasi, indikatornya meliputi: (1) mengungkapkan secara lisan dan mengatasi kecemasan, kemarahan, dan depresi;  (2) mengendalikan kata hati, kemarahan, dan merusak diri sendiri, perilaku antisocial;  (3) mengelola stres pribadi dan orang lain; (4) memfokuskan pada tugas-tugas yang ada; (5) menetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang; (6) merencanakan secara bijaksana dan menyeluruh; (7) memodifikasi kinerja berdasarkan umpan balik; (8) memobilisasi motivasi positif; (9) mengaktifkan harapan dan optimis; dan (10) bekerja menuju status kinerja yang optimal.
4). Bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan, indikatornya mencakup:    (1) menganalisa situasi secara tepat dan mengidentifikasi masalah dengan jelas;    (2) melatih dalam pengambilan keputusan sosial dan ketrampilan pemecahan masalah; (3) menanggapi secara baik dalam cara pemecahan masalah terhadap hambatan orang lain; (4) melakukan evaluasi diri dan refleksi; dan (5) melakukan diri sendiri dengan tanggungjawab pribadi, moral, dan etika.
5). Mengelola hubungan, indikatornya meliputi: (1) mengelola emosi dalam hubungan, harmonisasi perasaan dan sudut pandang yang beragam;                        (2) menunjukkan kepekaan terhadap isyarat sosial-emosional; (3) mengekspresikan emosi secara efektif; (4) mengkomunikasikan secara jelas; (5) melibatkan orang lain dalam situasi social; (6) membangun hubungan; (7) melakukan kerja secara kooperatif; (8) melatih sikap tegas, kepemimpinan, dan kepercayaan; (9) mengelola konflik, negosiasi, dan penolakan; dan (10) menyediakan, mencari bantuan (Maurice dalam Nucci,2008: 251).
d.   Langkah-langkah Pembelajaran AIK dengan Pendekatan SEL
Langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran AIK dengan pendekatan SEL, adalah:
1)   Menentukan tujuan pembelajaran
Dosen harus dapat melaksanakan pembelajaran secara sistematis sesuai dengan urutan kompetensi di dalam standar isi mata kuliah AIK. Langkah pertama, dosen melihat dahulu standar isi mata kuliah AIK. Berdasarkan Standar kompetensi lulusan dan kompetensi dasar setiap pokok bahasan, dosen dapat  menentukan tujuan pembelajaran kognitif, afektif, dan psikomotorik yang akan dicapai melalui materi dan proses pembelajaran.
2)   Menentukan nilai-nilai target  berdasarkan standar capaian kompetensi
Nilai-nilai target ini merupakan nilai-nilai kebaikan yang menunjang pembentukan karakter dan akhlak mulia. Setelah nilai target ditentukan selanjutnya dikembangkan indikator capaian hasil belajar yang meliputi pengetahuan tentang nilai-nilai tersebut, dorongan hati nurani untuk mengamalkannya, dan kebiasaan untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
3)   Menggunakan pendekatan terintegrasi
Mengembangkan materi pembelajaran dengan pendekatan terintegrasi, yaitu  perpaduan antara materi AIK dengan nilai-nilai luhur untuk dapat dihayati, diamalkan sehingga menjadi kebiasaan positif siswa. Dosen dituntut mahir dalam memadukan nilai-nilai target ke dalam materi pembelajaran sehingga sesuai untuk mencapai kompetensi mata kuliah AIK dalam membentuk karakter siswa. Misalnya: anak tidak sekedar pandai membaca al Qur’an tetapi siswa juga mampu membentuk pribadi yang jujur, dermawan, taat beribadah, dsb. 
4)   Menggunakan metode yang komprehensif
Metode komprehensif merupakan perpaduan antara dua metode tradisional yaitu inkulkasi (penanaman nilai) dan keteladanan, serta dua metode kontemporer yaitu fasilitasi (memberikan kesempatan kepada murid untuk berlatih membuat keputusan moral) dan mengembangkan keterampilan hidup (antara lain berpikir kritis, berpikir kreatif, berkomunikasi secara efektif, dan mengatasi konflik)
5) Menentukan strategi pembelajaran
Ada beragam strategi pembelajaran yang dapat menciptakan hasil belajar yang komprehensif (meliputi pemikiran moral, perasaan atau afek moral, dan perilaku bermoral). Kirschenbaum (1995:60-240) menyajikan ada 34 strategi metode inkulkasi (penanaman nilai), 21 strategi metode keteladanan nilai, 30 strategi metode fasilitasi nilai, dan 10 strategi metode pengembangan keterampilan hidup (soft skills). Dalam memilih strategi pembelajaran untuk pembentukan karakter dan akhlak, harus diingat bahwa strategi ini harus dapat menciptakan situasi belajar yang menyenangkan, aktif, kreatif, bertanggung jawab, dan saling bekerja sama.
6)  Merancang kegiatan
Kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan bidang studi PAI dan aktualisasi nilai-nilai target. Melalui kegiatan menyimak (mendengarkan dengan penuh pemahaman), membaca, merangkum, mempresentasikan, bercerita, bermain dan bernyanyi, bermain peran, dan sebagainya.


   

1 komentar:

  1. Mbak, terimakasih.. postingan ini sangat membantu tugas saya..
    bolehkah saya meminta daftar pustakanya?
    terimakasih atas kesediaan mbak dwy purwaningsih

    BalasHapus