Kamis, 07 Mei 2015

revolusi belajar




A.    Pengertian Revolusi Belajar
Pengertian revolusi menurut KBBI ialah perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang. Secara istilah revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau tanpa kekerasan.
Sedangkan kata belajar menurut KBBI ialah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berupa tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman dan latihan baik menyangkut aspek pengatahuan, sikap, atau ketrampilan. Sedangkan secara istilah belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatau jika dia menunjukan perubahan tingkah lakunya.
Belajar secara revolusioner yaitu belajar secara mengasikkan dan menyenangkan sepanjang hidup manusia tanpa terikat oleh sistem yang memenjarakan kebebasan dengan pengaturan yang mesti dipenuhi.

B.     Tinjauan Awal Terhadap Sistem Terbuka dan Anak-anak
Kalangan profesional memandang dunia sebagai suatu pola dari berbagai sistem. Mereka membesar-besarkan kegunaan dari perspektif “sistem” tersebut untuk membantu kita memahami cara kerja segala sesuatu. Membuka pikiran berbicara tentang perbedaan-perbedaan antara sistem terbuka dan sistem tertutup. Buckminter Fuller menggambarkannya dengan cara : “ jika Anda menggambar sebuah lingkaran di pasir dan hanya mempelajari apa-apa yang ada di dalam lingkaran tersebut, itulah yang disebut perspektif sistem tertutup. jika Anda mempelajari apa yang ada di dalam dan segala sesuatu yang ada di luarnya, itulah perspektif sistem terbuka”
Saat ini anak tidak lagi dibatasi aturan-aturan yang usang. Mereka bebas memasuki dunia-dunia di luar lingkaran- lingkaran pembatas yang dibuat untuk mereka oleh sejarah. Mereka menerobos keluar untuk menjelajahi sistem realitas yang terbuka. Komedi sitauasi di televisi menantang mereka dengan isu-isu moral yang pada era sebelumnya tidak mungkin mereka ketahui sebeum mereka dewasa. Sebagai orangtua dan guru, kita harus memilih apkah kita akan berusaha mengembalikan mereka ke dalam lingkaran-lingkaran masa lalu yang “aman” atau memudahkan mereka melalui jalan untuk memasuki dunia yang dapat turut mereka ciptakan.
Pengalaman sistem terbuka bersifat kontekstual. Itu berarti setiap pengalaman terkait dengan banyak sekali kondisi yang berbeda. Dalam pengalaman sistem terbuka, anak tidak mempelajari fakta-fakta akan tetapi mereka mempelajari sebuah hubungan. Misalnya, jka ‘magnet” diajarkan dengan sistem magnetisme, begitu juga fakta-fakta dasar. Pikiran mereka akan menjangkau jauh melampaui gambaran sederhana mengenai perbedaan polaritas magnet. Mereka akan siap membayangkan perjalanan Marco Polo dan jarum besi ajaib yang dibawanya di dalam keretanya melintasi Asia. Mereka akan siap untuk lebih jauh menjelajahi cahaya Utara dan Selatan. Mereka akan mengawasi organisme-organisme di bawah mikroskop yang tiba-tiba berjajar begitu diinduksikan suatu

C.    Otak dua sisi
Pendapat Roger Sperry mengenai kerja pikir otak ialah meyakini bahwa kedua belahan otak benar-benar memiliki pembagian kerja. Ia menemukan bahwa otak kiri mempunyai spesialisasi dalam pemprosesan rasional, logis, linear, sekuensial, dan berurutan dalam waktu, di sini termasuk penggunaan bahasa sedangkan belahan kanan kebanyakan orang mempunyai spesialisasi dalam fungsi anologis, metaforis, holistis, visual spasial dan sintetis. Penelitian membuktikan bahwa kedua belahan itu berfungsi secara saling melengkapi.
Maka selama ini kita terjebak oleh sekolah sebagai lembaga “separo otak” dan di rumah orang tua memaksakan anak meraih ketrampilan otak kiri. Jika murid berpikiran terbatas sesuai dengan cara-cara yang disetujui oleh sekolah, maka mereka akan disebut murid berbakat, dan apabila orang tua telah mengetahui tugas otak kiri dan kanan maka pasti mereka akan mercari sekolah yang mengajarkan tentang penggunakan otak kanan pada anak. Sebab orang tua akan merasa bahwa ia telah menjadi korban sekolah yang memberikan tekanan berlebihan pada otak kiri.

D.    Otak Holonomi
Pribram menyelidiki hologram dan holonomi sebagi model utama untuk organisasi otak pikiran. Hologram adalah medium untuk merekam informasi optic. Dalam suatu hologram, seluruh informasi disimpan dalam setiap bagian medium perekam. Informasi optic itu disimpan dalam pola-pola frekuensi dan bukannya sebagai gambar. Gambar-gambar itu dapat diperoleh kembali dengan cara menyorotkan semacam cahaya pengatur (biasanya sinar laser) pada medium. Hasilnya adalah terciptanya kembali citra frekuensi 3 dimensi. Dengan hologram, kita dapat melihat secara 3 dimensi dan melihat perspektif- perspektif yang berbeda dengan sudut- sudut yang berbeda pula.
Pribram dengan cerdik membandingkan cara hologram menyimpan informasi dengan cara otak menyimpan informasi. Hologram dapat dipecah menjadi berkeping- keeping dan setiap keeping akan memuat informasi yang juga termuat dalam bentuk aslinya. Mungkin, beginilah otak dapat mengembalikan fungsi-funginya yang hilang dengan begitu cepat dan sempurna. Pribram menyimpulkan bahwa etiap bagian otak mengalami semua yang dialami bagian otak yang lain, namun itu dilakukan dengan cara yang berbeda. Yang sesungguhnya harus dilakukan adalh menciptakan cara-cara yang tepat untuk mendorong otak yang tidak rusak untuk mengungkapkan apa yang diketahuinya mengenai fungsi yang hilang agar dapat mengembalikanfungsi tersebut.
Model holonomi didasarkan pada keseluruhan, keutuhan. Maksudnya adalah betapa pun terperincinya telaah mengenai suatu sistem, bagian- bagian harus dikumpulkan kembali menjadi suatu keseluruhan sebelum bisa diperoleh kesimpulan nyata. Misalnya, ketika para terapis mula- mula merawat pasien stroke yang kehilangan kemampuan berbicara, mereka memisahkan kesulitannya untuk berbiacara. Mereka memilih bagian kecil ini, dari semua masalah yang akan mereka tangani.
Model holonomi atau holografi berpendapat bahwa otak bekerja dengan cara- cara yang dapat mempermudah pemulihan semacam itu. Model ini nmenganggap bahwa pengalaman dapat diperoleh kembali dalam berbagai bentuk dan dengan berbagai cara. Jika pengalaman disandingkan keseluruh otak, kembalinya informasi dapat terjadi di mana saja. Kita harus siap mengetahui bagaimana informasi itu diperoleh kembali dan bagaimana mengungkapkannya dalam bentuk y6ang bermanfaat.
Rusaknya sebagian otak tampaknya tidak merusak pikiran. Meskipun benar bahwa fungsi- fungsi tertentu otak mungkin terganggu, kualitas pikiran yang lebih holistis tetap terjaga. Yang sesungguhnya harus dilakukan adalah menemukan cara untuk memberi tahu orang- orang yang sedang dalam masa pemulihan bahwa pikirannya masih aktif dan bekerja dengan cara yang berbeda dengan cara yang sebelumnya ditunjukkan oleh fungsi- fungsi yang hilang. Jika kesadaran ini telah terbentuk, kembalinya fungsi- fungsi yang hilang itu akan angat terbantu. Ini sangat tergantung pada strategi pemulihan.
Model holonomi menuntut perhatian terhadap keutuhan dan mengaskan hakikat sistem terbuka pada pikiran. Model- model mekanistis lebih menyukai pendekatan campur tangan dari luar yang “mengawasi” dan “ambil hasil”. Ini lazim dalam behaviorisme. Pada akhirnya, kita dapat melihat perbedaan antara focus pada kelemahan dan focus pada kekuatan. Tidak ada informasi lain yang lebih penting bagi guru atau orangtua. Sistem otak pikiran dirancang untuk menunjang kesinambungan, kelangsungan, dan holisme. Dalam holonomi, informasi yang diperoleh dari penelaahan terhadap bagian- bagian kan terjalin kembali ke dalam suatu perspektif yang lebih luas dan lebih inklusif.

E.     Model Holonomi dalam Keayahbundaan dan Pendidikan
Implikasi model holonomi dalam pendidikan dan keayahbundaan atau pengasuhan sangat besar. Namun, kebanyakan kita belum mengalami banyak holonomi dalam pendidikan dan bagi sebagian sangat sedikit dalam pengasuhan kita. Kita adalah produk paradigm reduktif. Kita dilahirkan di tengah berkembangnya revolusi industri. Revolusi itu sebenarnya sudah mati, tetapi perkembangannya tetap berlanjut. Kita tergantung pada gagasan bahwa sekolah membuat seseorang “cerdas”, dengan kecerdaan yang diukur lewat kemampuan baca-tulis-hitungan dan pemikiran reduktif. Kita tunduk pada gagasan bahwa mengikuti aturan, baik tertulis atau tidak merupakan cara untuk maju.
Kecenderungan pada ketertutupan dan model-model reduktif dalam pengasuhan dan pendidikan membatasi jumlah pilihan yang dapat dialami anak. Lagi pula, itu membatasi mereka ke arah aturan dan adat istiadat. Kecenderungan pada keterbukaan dan model-model holonomi menghasilkan pilihan yang semakin banyak bagi anak. Kecenderungan ini tetap menghargai akidah, namun menganggap adat istiadat sebagai suatu pilihan dan bukan kewajiban. Pada masa lalu, masyarakat membatasi pilihan untuk menjamin agar segara hal dapat diramalkan dan stabil. Kini, setelah aturan-aturan itu berubah dalam masyarakat kita yang terbuka dengan informasi yang berlimpah.
Metode holonomi menghormati seluruh otak. Pendekatan holonomi dimulai dengan segera untuk memastikan anak bahwa mereka tahu banyak tentang matematika. Namun, mereka “tahu” dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian membutuhkan citra nonsimbol, seperti jumlah apel atau jeruk. Yang lain membutuhkan jenis-jenis masukan auditori tertentu, seperti music atau bahkan ketukan pensil di atas meja. Yang lainnya lagi perlu memanfaatkan objek-objek, seperti kelereng atau kubus. Jika cara-cara ini diterapkan kepada anak, matematika menjadi estetika baru dari suatu kearifan holistis.
Jika pendekatan sistem tertutup digunakan untuk mengajar matematika, sering tercipta permusuhan dalam pikiran pembelajar. Mereka mulai membela diri dengan pernyataan-pernyataan, seperti “Aku benci Matematika” dan ‘Matematika itu konyol”. Pada akhirnya, mereka percaya pada penjelasan semacam itu, yang secara efektif menciptkan persepsi pikiran tertutup mengenai matematika.

F.     Modalitas, Kecerdasan, Gaya, dan Kreativitas.

Ø  Modalitas Belajar
Modalitas belajar adalah ungkapan dari rancanagan sistem otak pikiran. Mereka mewakili kemampuan dasar kita untuk memperoleh dan menciptakan pengalaman. Modalitas belajar adalah ungkapan dari rancagan sistem otak pikiran. Mereka mewakili kemampuan dasar kita untuk memperoleh dan menciptakan pengalaman. Modalitas belajar adalah berbagai cara yang di gunakan sistem otak pikiran untuk mengakses pengalaman (masukan) dan mengukapkan pengalaman (keluaran). Seluruh modalitas belajar kita terkait dengan indra kita. Sebagian besar memiliki kaitan langsung, hanya sedikit yang merupakan representasi pengalaman kita yang diterjemahkan ke dalam bentuk abstraksi. Hebatnya, rancangan kita memungkinkan kita mengganti sandi-sandi simbol bagi pengalaman indrawi, baik dalam masukan maupun keluaran. Meskipun tidak begitu berlimpah, sandi-sandi simbol itu memungkinkan kta seakan-akan mengalami sendiri. Simbol abstrak telah menjadi kotak peralatan bagi indra. Kita menggunakan simbol abstrak untuk menggantikan pengalaman indrawi.
Modalitas adalah rute akses sistem otak pikiran untuk memasuki dunia. Selain mengumpulkan pengalaman melalui indra, modalitas menentukan cara pengalaman diungkapkan melalui komunikasi. Ingatlah bahwa kita memiliki 19 indra, 14 lebih banyak dari 5 indra yang biasanya yang kita kenal. Jelas ada modalitas bagi masuka dan keluaran di dalam tiap-tiap indra tersebut- indra yang biasanya kita abaikan. Ini berarti kita mengalami masukan dan keluaran yang biasanya tidak diakui.
Tujuan sebenarnya dalam pengkajian modalitas belajar adalah memperluas kemungkinan. Pembelajar dapat menggunakan cara-cara yang telah mereka miliki untuk membatasi penggunaan modalitas mereka sendiri, mereka dapat melatih secara sadar cara-cara berpikir yang baru. Ini berlaku di sekolah dan dalam kehidupan.
Dengan menggunakan apa yang kita ketahui tentang modalitas belajar, kita dapat mengorkestrasi variasi pengalaman yang ditawarkan kepada anak. Mereka akan memperoleh cara-cara yang lebih kaya dan lebih luas untuk berperan serta di dunia yang terus berubah. Kita harus berusaha untuk menegakkan integritas pemikiran metaforis dan rasional dan mengajar anak untuk menghormati luasnya pikiran. Selain itu, kita harus pula mengikis ketrampilan reduktif tertentu.
Saya berfokus lima kategori modalitas belajar yang utama, yaitu abstrak-simbolis, visual, kinestetis, auditori, dan sinergis. Ini adalah modalitas yang paling tepat untuk lingkungan sekolah, keluarga, dan perusahaan.
1.      Abstrak-Simbolis
Hanya sedikit kebudayaan yang secara religious setia pada modalitas abstrak-simbolis sebagaimana kebudayaan yang canggih teknoliginya. Kita mempunyai hubungan cinta yang unik dengan sandi abstrak. Kita menilai kecerdasan seseorang dari ketrampilannya memanfaatkan sandi-sandi itu. Sandi abstrak telah menjadi sarana komunikasi utama, dan banyak guru dan orangtua menganggap fungsi pokok pendidikan adalah menanamkan ketrampilan membaca, menulis, dan berhitung. Sandi adalah representasi- mereka mewakili bentuk realitas tertentu. Kita menggunakan “A” untuk nilai tertinggi di sekolah dan “1” untuk yang terbaik dalam bidang olahraga.
Semua sandi dan symbol yang mengungkapkannya ditentukan oleh aturan-aturan yang rasional, logis, sekuensial, dan sesuai dengan waktu. Yang dinamakan bentuk pemrosesan “otak kiri”.
Ciri unik lainnya dari karya pikir simbolis adalah simbol itu mau tak mau mendaptkan makna mereka sendiri. Pikiran mulai memanfaatkan mereka demi mereka sendiri dan melupakan bahwa mereka diciptakan dengan tujuan sebagai representasi.
Jika anak menguasai ketrampilan dalam modalitas ini, mereka pasti dianggap cemerlang atau cerdas. Maka dari itu, banyak orangtua dengan penuh semangat memperhatikan uaha anak mereka untuk bisa membaca dan menulis.

2.      Visual
Kearifan visual timbul dari pengelihatan. Manusia menyadari apa yang mereka lihat dan apa yang mereka pahami itu terkait. Peranan pengelihatan itu cukup penting dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga memberi kemampuan untuk mencatat, menerapkan, dan bahkan mengubah apa yang telah dialami. Para sarjana yang mengkaji asal-usul bahasa tulisan hampir semuanya bersepakat bahwa usaha penulisan yang pertama adalah berupa gambar atau piktograf. Semua sandi tertulis berasal dari karya seni lukisan.
Anak mengembangkan kearifan visual jauh sebelum mereka menguasai sandi Abstrak-Simbolis, karena orangtua dan guru modern relatif tidak peka terhadap modalitas indrawi (visual, kinestetis, dan auditori) mereka sering mengabaikannya atau memanfaatkannya untuk mendukung usaha meningkatkan prestasi membaca, menulis, dan aritmetika.
Kearifan visual itu lebih dari sekedar “kesenian”. Kearifan visual adalah sumber dari bentuk terdekat logika yang bergantung pada metafora sebagai strukturnya.

3.      Kinestetis
Sampai kini, gagasan bahwa tubuh melukiskan antitesis pikiran telah melekat pada kebudayaan barat. Di dalam ratusan ruang kelas di seluruh negeri, guru dan murid menyatukan tubuh dan pikiran dalam pembelajaran. Program Outward Bound dan program petualangan lainnya telah menumbuhkan kesadaran bahwa proses ini merupakan jalan dua arah. Besarnya keterlibatan kinestetis ketika pikiran sedang menjelajahi gagasan-gagasan dan nilai-nilai baru memastikan perpaduan yang lebih holistis antara pikiran dan tubuh.
Pendekatan kinestetis ini menawarkan berbagai keterampilan sepanjang hidup yang dapat dilakukan sendiri oleh para murid, tanpa dokumen dari tim yang terorganisasi. Di antaranya adalah ski menuruni bukit dan lintas alam, menyelam, mendaki gunung, dan rekreasi serta berlari. Dalam pengalaman semacam ini, anak mempunyai waktu mendengarkan tubuh dan pikiran mereka.

4.      Auditori
Peranan fungsi auditori dalam sistem otak pikiran memiliki contoh saat ujian seorang murid mengetuk-ngetukkan pensilnya di atas meja dengan entakan yang rumit dan berirama. Ketika tes dimulai murid itu menciptakan musik, saat itu juga untuk disesuaikan dengan kata-kata pada setiap baris tes. Ia memang selalu kesulitan membaca, hal ini mendorong ibunya untuk bertindak di rumah dengan menunjukkan kepadanya bahwa ia dapat membaca. Ibunya mengajarinya untuk membaca bunyi dan selanjutnya mengajarinya untuk membaca musik.

5.      Sinergis
Pengaruh sinergi adalah membuat ungkapan final dari interaksi itu lebih besar daripada jumlah seluruh bagian-bagiannya. Secara sinergi, pikiran menciptakan perpaduan yang kaya dan benar-benar baru dari semua modalitas. Cara sinergis termasuk pengetahuan mengenai diri, hubungan orang lain, dan kaitan dengan sistem alam. Dalam fungsi sinergi, kita melihat diri anak campuran antara kegembiraan dan perasaan damai.

Ø  Kecerdasan
Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam masyarakat. Gardner menyatakan bahwa bentuk-bentuk kecerdasan Matematis-Logis dan Linguistik paling disukai masyarakat kita.
Tokoh lain yaitu Robert Sternberg menggambarkan tiga kualitas kecerdasan yaitu Kontekstual, Eksperiensial, dan Komponensial. Kecerdasan merupakan ungkapan dari cara menjadikan modalitas belajar kita bermanfaat dalam masyarakat.


Ø  Gaya Belajar
Gaya belajar adalah cara yang lebih kita sukai untuk memproses pengalaman dan informasi. Gaya belajar adalah kebiasaan yang mencerminkan cara kita memperlakukan pengalaman yang kita peroleh melalui modalitas.
Mc Carthy mengumpulkan empat preferensi atau kebiasaan dalam memproses informasi.


      PENGALAMAN KONKRET


EKSPERIMENTASI AKTIF                        PENGAMATAN REFLEKTIF



KONSEPTUALISASI ABSTRAK
 













*CIRI-CIRI UMUM:
1.      Pembelajar Kuadran 1 ( Preferensi pada PENGALAMAN KONKRET dan PENGAMATAN REFLEKTIF)
-          Mereka lebih suka mendengarkan dan kemudian membahas gagasa-gagasan dalam percakapan.
-          Mereka tertarik pada psikologi humanistis.
-          Mudah berempati, bijaksana, dan mudah bekerja sama.
-          Sangat tinggi harapannya terhadap orang lain.

2.      Pembelajar Kuadran 2 (Preferensi pada PENGAMATAN REFLEKTIF dan KONSEPTUALISASI ABSTRAK)
-          Berpegang teguh pada kebenaran.
-          Mereka suka bekerja dengan segala sesuatu yang jelas tujuannya, fungsi, dan apa yang akan diraih.
-          Suka pada psikologi.
-          Memiliki daya ketepatan tinggi.
-          Pemaksaan untuk menjadi sempurna.

3.      Pembelajar Kuadran 3 (Preferensi pada EKSPERIMENTASI AKTIF dan KONSEPTUALISASI ABSTRAK)
-          Menyukai praktik langsung.
-          Mengagung-agungkan “fakta”.
-          Cekatan “SIAP-BIDIK-TEMBAK”.
-          Ketika dewasa nanti, suka ikut campur tangan.
-          Mampu menyelesaikan semua pekerjaan.
-          Pengganggu yang memaksa.

4.       Pembelajar Kuadran 4 (Preferensi pada PENGALAMAN KONKRET dan EKSPERIMENTASI AKTIF)
-          Suka menemukan jawaban sendiri.
-          Waktu kecil memiliki daya cipta dan bisa menghibur diri sendiri.
-          Percaya diri dan mampu mengarahkan diri sendiri.
-          Selalu berlebihan dalam berkomitmen.

Ø  Kreativitas
Membuka pikiran dimaksudkan untuk mendukung keyakinan bahwa semua manusia diciptakan berbeda-beda dirancang untuk mampu menguasai dan meraih kemuliaan dalam berbagai atribut sistem otak-pikiran. Jika ada perbedaan semacam itu, kemungkinan timbulnya kreativitas meningkat. Kreativitas membutuhkan modifikasi pemikiran. Hasilnya dapat dikatakan baru atau luar biasa. Yang lama harus diubah. Sedangkan Integritas dari kreativitas itu sendiri ialah:

a.       Kreativitas itu lebih dari sekedar perubahan.
b.      Kreativitas itu mencakup ketepatan dan presisi.
c.       Kreativitas mungkin timbul dalam semua modalitas, kecerdasan, dan gaya.
d.      Kreativitas bisa bersifat umum dan juga pribadi.
e.       Kreativitas menghasilkan ungkapan yang bermanfaat dan estetis.
f.       Kreativitas dimulai dengan keragaman dan diakhiri dengan kekhususan.
g.      Kreativita membutuhkan keterbukaan dan ketertutupan.
h.      Kreativitas bersifat revolusioner.
i.        Kreativitas bergantung pada sikap
j.        Kreativitas terwujud dalam gaya hidup.


G.    EPISODE, REFLEKSI, dan EKSPLORASI
Bagian ini menyajikan beberapa metode-metode untuk menghormati berbagai modalitas dalam pengajaran dan pengasuhan.

1.      EPISODE 1
                   Ada seorang anak yang menggambar pahlawan dan penjahat sedang berperang, karena hal itu seorang guru menggambarnya menanyakan berbagai macam hal tentang lukisannya itu seperti, “Gambar apa ini? Mengapa kau menggambar sesuatu yang begitu kejam? Mengapa orang-orang ini aling bertempur? Siapa yang akan menang?” dengan hal sekecil inilah si anak merasa kurang nyaman.

Refleksi:
                   Banyaknya pertanyaan dari guru mengenai karya seninya memang jurus jitu agar dapat menumbuhkan sikap membela diri terhadap usahanya, namun yang lebih penting lagia ialah bagaimaa jenis pertanyaan yang diajukan. Guru di atas seharusnya tidak berkata seperti itu. Contoh pertanyaannya ialah “ Ibu belum tau ini gambar bumi atau planet lain. Wah, sepertinya penjahat itu edang berada dalam kesulitan.ketika ibu kecil, kakak ibu sering menggambar lukisan perang, dan ebagainya.”
Cara lain untuk menghormati ungkapan visualnya dengan cara menyediakan ruang galeri untuk memamerkan karya mereka.

Eksplorasi:
·         Buatlah lukisan yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.
·         Gambarlah ruang kamar kalau dilihat dari bola lampu.
·         Gambar orang-orang yang dapat kau lihat dari tempatmu.

2.      EPISODE 2
                   Guru memutar musik lalu meminta muridnya untuk memperhatikan sebuah gambar, dan meminta untuk menyimpan gambar yang paling menarik karena nanti gambar yang telah dperhatikan akan dilukis. Setelah musik berhenti, guru meminta mereka untuk tetap memperhatikan gambar perlahan-lahan dan menyimpannya dalam memori, setelah dirasa siap murid boleh mencoba menggambarnya. Ketika gambar sudah jadi, maka murid diminta untuk menempelkan hasul karyanya sembari mendengarkan music kembali.

Refleksi:
                   Banyak seniman visual yang mendengarkan musik saatmereka melukis, seperti Grofe dan Copeland yang sering melihat sekilas pemandangan visual ketika mereka menciptakan karya simfoni.

Eksplorasi:
·         Dengarkanlah musik lain dan gambarlah luksan yang tercipta dari music itu.
·         Mainkan musik dengan warna-warna yang berbeda.
·         Mainkan musik untuk sebuah cerita.



3.      EPISODE 3
                   Guru bisa memberikan sebuah film pendek. Sebelum diputar guru member tahu tentang tema film tersebut. Di depan kelas guru menyediakan kertas besar untuk menampung gagasan mereka. Sebab guru meminta para siswa untuk menebak apa saja yang akan terjadi, atau ada apa di sana (sebelum menonton film). Lalu, siswa diminta menuliskan gagasannya di depan. Kemudian, mereka baru menonton film, sehingga akan terasa meriah ketika ada kalimat atau suatu kejadian yang ternyata tidak ada di film tersebut.

Refleksi:
                   Hindari penentuan “Benar-Salah” sebab tidak ada produksi film yang komprehensif. Misalnya, film mengenai gurun pasir mungkn tidak menyebut-nyebut unta padahal beberapa anak mungkin menyebutkannya. Ini tidak bisa dianggap “salah” tetapi benar dalam konteks yang berbeda.

Eksplorasi:
·         Lakukanlah juga dengan mengambil barang-barang yang tercantum dalam daftar.
·         Ambillah dari iklan dan majalah.
·         Membaca deskripsi acara atau film .

4.      EPISODE 4
Ruangan dipenuhi dengan perlengkapan seni. Guru membolehkan siswa untuk mengambil semua bahan yang ada di ruangan tersebut. Lalu guru memberikan tugas, tugas boleh didiskusikan oleh siapa saja kecuali dengan guru, setelah tugas dijelaskan, murid tidak boleh bertanya kembali mengenai tugasnya. Misalkan, guru menulis di papan tulis “Buatlah karya seni yang mengungkapkan konsep cinta”. Akhirnya mau tidak mau murid merasa kebingungan dan berdiskusi dengan teman lainnya.

Refleksi:
                   Variasi aktivitas ini menggunakan kelompok. Dengan adanya hal ini maka setiap siswa semakin memiliki banyak pengetahuan mengenai konsep cinta. Sebab setiap kelompok pasti akan mengungkapkan konsep yang berbeda-beda.

Eksplorasi:
·         Adakanlah acara melukis dan setiap pesertanya bergiliran mengemukakan gagasannya.
·         Buatlah lukisan dari benda kesayangannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar