A.
Pengertian
Revolusi Belajar
Pengertian
revolusi menurut KBBI ialah perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang. Secara
istilah revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara
cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam
revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan
terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau tanpa kekerasan.
Sedangkan kata belajar menurut KBBI ialah berusaha memperoleh
kepandaian atau ilmu, berupa tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh
pengalaman dan latihan baik menyangkut aspek pengatahuan, sikap, atau
ketrampilan. Sedangkan secara istilah belajar adalah perubahan yang relatif
permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman
atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara
stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatau jika dia
menunjukan perubahan tingkah lakunya.
Belajar secara revolusioner yaitu belajar secara mengasikkan dan
menyenangkan sepanjang hidup manusia tanpa terikat oleh sistem yang
memenjarakan kebebasan dengan pengaturan yang mesti dipenuhi.
B.
Tinjauan Awal Terhadap Sistem Terbuka dan Anak-anak
Kalangan profesional memandang dunia
sebagai suatu pola dari berbagai sistem. Mereka membesar-besarkan kegunaan dari
perspektif “sistem” tersebut untuk membantu kita memahami cara kerja segala
sesuatu. Membuka pikiran berbicara tentang perbedaan-perbedaan antara sistem
terbuka dan sistem tertutup. Buckminter Fuller menggambarkannya dengan cara : “
jika Anda menggambar sebuah lingkaran di pasir dan hanya mempelajari apa-apa
yang ada di dalam lingkaran tersebut, itulah yang disebut perspektif sistem tertutup.
jika Anda mempelajari apa yang ada di dalam dan segala sesuatu yang ada di
luarnya, itulah perspektif sistem terbuka”
Saat ini anak tidak lagi dibatasi
aturan-aturan yang usang. Mereka bebas memasuki dunia-dunia di luar lingkaran-
lingkaran pembatas yang dibuat untuk mereka oleh sejarah. Mereka menerobos
keluar untuk menjelajahi sistem realitas yang terbuka. Komedi sitauasi di
televisi menantang mereka dengan isu-isu moral yang pada era sebelumnya tidak
mungkin mereka ketahui sebeum mereka dewasa. Sebagai orangtua dan guru, kita
harus memilih apkah kita akan berusaha mengembalikan mereka ke dalam
lingkaran-lingkaran masa lalu yang “aman” atau memudahkan mereka melalui jalan
untuk memasuki dunia yang dapat turut mereka ciptakan.
Pengalaman sistem terbuka bersifat
kontekstual. Itu berarti setiap pengalaman terkait dengan banyak sekali kondisi
yang berbeda. Dalam pengalaman sistem terbuka, anak tidak mempelajari
fakta-fakta akan tetapi mereka mempelajari sebuah hubungan. Misalnya, jka
‘magnet” diajarkan dengan sistem magnetisme, begitu juga fakta-fakta dasar.
Pikiran mereka akan menjangkau jauh melampaui gambaran sederhana mengenai
perbedaan polaritas magnet. Mereka akan siap membayangkan perjalanan Marco Polo
dan jarum besi ajaib yang dibawanya di dalam keretanya melintasi Asia. Mereka
akan siap untuk lebih jauh menjelajahi cahaya Utara dan Selatan. Mereka akan
mengawasi organisme-organisme di bawah mikroskop yang tiba-tiba berjajar begitu
diinduksikan suatu
C. Otak
dua sisi
Pendapat
Roger Sperry mengenai kerja pikir otak ialah meyakini bahwa kedua belahan otak
benar-benar memiliki pembagian kerja. Ia menemukan bahwa otak kiri mempunyai
spesialisasi dalam pemprosesan rasional, logis, linear, sekuensial, dan
berurutan dalam waktu, di sini termasuk penggunaan bahasa sedangkan belahan
kanan kebanyakan orang mempunyai spesialisasi dalam fungsi anologis, metaforis,
holistis, visual spasial dan sintetis. Penelitian membuktikan bahwa kedua
belahan itu berfungsi secara saling melengkapi.
Maka
selama ini kita terjebak oleh sekolah sebagai lembaga “separo otak” dan di
rumah orang tua memaksakan anak meraih ketrampilan otak kiri. Jika murid
berpikiran terbatas sesuai dengan cara-cara yang disetujui oleh sekolah, maka
mereka akan disebut murid berbakat, dan apabila orang tua telah mengetahui
tugas otak kiri dan kanan maka pasti mereka akan mercari sekolah yang
mengajarkan tentang penggunakan otak kanan pada anak. Sebab orang tua akan
merasa bahwa ia telah menjadi korban sekolah yang memberikan tekanan berlebihan
pada otak kiri.
D.
Otak Holonomi
Pribram menyelidiki hologram dan holonomi sebagi model utama
untuk organisasi otak pikiran. Hologram adalah medium untuk merekam informasi
optic. Dalam suatu hologram, seluruh informasi disimpan dalam setiap bagian
medium perekam. Informasi optic itu disimpan dalam pola-pola frekuensi dan
bukannya sebagai gambar. Gambar-gambar itu dapat diperoleh kembali dengan cara
menyorotkan semacam cahaya pengatur (biasanya sinar laser) pada medium.
Hasilnya adalah terciptanya kembali citra frekuensi 3 dimensi. Dengan hologram,
kita dapat melihat secara 3 dimensi dan melihat perspektif- perspektif yang
berbeda dengan sudut- sudut yang berbeda pula.
Pribram dengan cerdik membandingkan cara
hologram menyimpan informasi dengan cara otak menyimpan informasi. Hologram
dapat dipecah menjadi berkeping- keeping dan setiap keeping akan memuat
informasi yang juga termuat dalam bentuk aslinya. Mungkin, beginilah otak dapat
mengembalikan fungsi-funginya yang hilang dengan begitu cepat dan sempurna.
Pribram menyimpulkan bahwa etiap bagian otak mengalami semua yang dialami
bagian otak yang lain, namun itu dilakukan dengan cara yang berbeda. Yang
sesungguhnya harus dilakukan adalh menciptakan cara-cara yang tepat untuk
mendorong otak yang tidak rusak untuk mengungkapkan apa yang diketahuinya
mengenai fungsi yang hilang agar dapat mengembalikanfungsi tersebut.
Model holonomi didasarkan pada keseluruhan,
keutuhan. Maksudnya adalah betapa pun terperincinya telaah mengenai suatu
sistem, bagian- bagian harus dikumpulkan kembali menjadi suatu keseluruhan
sebelum bisa diperoleh kesimpulan nyata. Misalnya, ketika para terapis mula-
mula merawat pasien stroke yang kehilangan kemampuan berbicara, mereka
memisahkan kesulitannya untuk berbiacara. Mereka memilih bagian kecil ini, dari
semua masalah yang akan mereka tangani.
Model holonomi atau holografi berpendapat
bahwa otak bekerja dengan cara- cara yang dapat mempermudah pemulihan semacam
itu. Model ini nmenganggap bahwa pengalaman dapat diperoleh kembali dalam
berbagai bentuk dan dengan berbagai cara. Jika pengalaman disandingkan
keseluruh otak, kembalinya informasi dapat terjadi di mana saja. Kita harus
siap mengetahui bagaimana informasi itu diperoleh kembali dan bagaimana
mengungkapkannya dalam bentuk y6ang bermanfaat.
Rusaknya sebagian otak tampaknya tidak
merusak pikiran. Meskipun benar bahwa fungsi- fungsi tertentu otak mungkin
terganggu, kualitas pikiran yang lebih holistis tetap terjaga. Yang
sesungguhnya harus dilakukan adalah menemukan cara untuk memberi tahu orang-
orang yang sedang dalam masa pemulihan bahwa pikirannya masih aktif dan bekerja
dengan cara yang berbeda dengan cara yang sebelumnya ditunjukkan oleh fungsi-
fungsi yang hilang. Jika kesadaran ini telah terbentuk, kembalinya fungsi-
fungsi yang hilang itu akan angat terbantu. Ini sangat tergantung pada strategi
pemulihan.
Model holonomi menuntut perhatian terhadap
keutuhan dan mengaskan hakikat sistem terbuka pada pikiran. Model- model
mekanistis lebih menyukai pendekatan campur tangan dari luar yang “mengawasi”
dan “ambil hasil”. Ini lazim dalam behaviorisme. Pada akhirnya, kita dapat
melihat perbedaan antara focus pada kelemahan dan focus pada kekuatan. Tidak
ada informasi lain yang lebih penting bagi guru atau orangtua. Sistem otak
pikiran dirancang untuk menunjang kesinambungan, kelangsungan, dan holisme.
Dalam holonomi, informasi yang diperoleh dari penelaahan terhadap bagian-
bagian kan terjalin kembali ke dalam suatu perspektif yang lebih luas dan lebih
inklusif.
E. Model Holonomi dalam Keayahbundaan dan
Pendidikan
Implikasi model holonomi dalam pendidikan
dan keayahbundaan atau pengasuhan sangat besar. Namun, kebanyakan kita belum
mengalami banyak holonomi dalam pendidikan dan bagi sebagian sangat sedikit
dalam pengasuhan kita. Kita adalah produk paradigm reduktif. Kita dilahirkan di
tengah berkembangnya revolusi industri. Revolusi itu sebenarnya sudah mati,
tetapi perkembangannya tetap berlanjut. Kita tergantung pada gagasan bahwa
sekolah membuat seseorang “cerdas”, dengan kecerdaan yang diukur lewat
kemampuan baca-tulis-hitungan dan pemikiran reduktif. Kita tunduk pada gagasan
bahwa mengikuti aturan, baik tertulis atau tidak merupakan cara untuk maju.
Kecenderungan pada ketertutupan dan
model-model reduktif dalam pengasuhan dan pendidikan membatasi jumlah pilihan
yang dapat dialami anak. Lagi pula, itu membatasi mereka ke arah aturan dan
adat istiadat. Kecenderungan pada keterbukaan dan model-model holonomi
menghasilkan pilihan yang semakin banyak bagi anak. Kecenderungan ini tetap
menghargai akidah, namun menganggap adat istiadat sebagai suatu pilihan dan
bukan kewajiban. Pada masa lalu, masyarakat membatasi pilihan untuk menjamin
agar segara hal dapat diramalkan dan stabil. Kini, setelah aturan-aturan itu
berubah dalam masyarakat kita yang terbuka dengan informasi yang berlimpah.
Metode holonomi menghormati seluruh otak.
Pendekatan holonomi dimulai dengan segera untuk memastikan anak bahwa mereka
tahu banyak tentang matematika. Namun, mereka “tahu” dengan cara yang
berbeda-beda. Sebagian membutuhkan citra nonsimbol, seperti jumlah apel atau
jeruk. Yang lain membutuhkan jenis-jenis masukan auditori tertentu, seperti
music atau bahkan ketukan pensil di atas meja. Yang lainnya lagi perlu
memanfaatkan objek-objek, seperti kelereng atau kubus. Jika cara-cara ini
diterapkan kepada anak, matematika menjadi estetika baru dari suatu kearifan
holistis.
Jika pendekatan sistem tertutup digunakan
untuk mengajar matematika, sering tercipta permusuhan dalam pikiran pembelajar.
Mereka mulai membela diri dengan pernyataan-pernyataan, seperti “Aku benci
Matematika” dan ‘Matematika itu konyol”. Pada akhirnya, mereka percaya pada
penjelasan semacam itu, yang secara efektif menciptkan persepsi pikiran
tertutup mengenai matematika.
F. Modalitas, Kecerdasan, Gaya, dan
Kreativitas.
Ø
Modalitas Belajar
Modalitas belajar adalah ungkapan dari
rancanagan sistem otak pikiran. Mereka mewakili kemampuan dasar kita untuk
memperoleh dan menciptakan pengalaman. Modalitas belajar adalah ungkapan dari
rancagan sistem otak pikiran. Mereka mewakili kemampuan dasar kita untuk
memperoleh dan menciptakan pengalaman. Modalitas belajar adalah berbagai cara
yang di gunakan sistem otak pikiran untuk mengakses pengalaman (masukan) dan
mengukapkan pengalaman (keluaran). Seluruh modalitas belajar kita terkait
dengan indra kita. Sebagian besar memiliki kaitan langsung, hanya sedikit yang
merupakan representasi pengalaman kita yang diterjemahkan ke dalam bentuk abstraksi.
Hebatnya, rancangan kita memungkinkan kita mengganti sandi-sandi simbol bagi
pengalaman indrawi, baik dalam masukan maupun keluaran. Meskipun tidak begitu
berlimpah, sandi-sandi simbol itu memungkinkan kta seakan-akan mengalami
sendiri. Simbol abstrak telah menjadi kotak peralatan bagi indra. Kita
menggunakan simbol abstrak untuk menggantikan pengalaman indrawi.
Modalitas adalah rute akses sistem otak
pikiran untuk memasuki dunia. Selain mengumpulkan pengalaman melalui indra,
modalitas menentukan cara pengalaman diungkapkan melalui komunikasi. Ingatlah
bahwa kita memiliki 19 indra, 14 lebih banyak dari 5 indra yang biasanya yang
kita kenal. Jelas ada modalitas bagi masuka dan keluaran di dalam tiap-tiap
indra tersebut- indra yang biasanya kita abaikan. Ini berarti kita mengalami
masukan dan keluaran yang biasanya tidak diakui.
Tujuan sebenarnya dalam pengkajian modalitas
belajar adalah memperluas kemungkinan. Pembelajar dapat menggunakan cara-cara
yang telah mereka miliki untuk membatasi penggunaan modalitas mereka sendiri,
mereka dapat melatih secara sadar cara-cara berpikir yang baru. Ini berlaku di
sekolah dan dalam kehidupan.
Dengan menggunakan apa yang kita ketahui
tentang modalitas belajar, kita dapat mengorkestrasi variasi pengalaman yang
ditawarkan kepada anak. Mereka akan memperoleh cara-cara yang lebih kaya dan
lebih luas untuk berperan serta di dunia yang terus berubah. Kita harus
berusaha untuk menegakkan integritas pemikiran metaforis dan rasional dan
mengajar anak untuk menghormati luasnya pikiran. Selain itu, kita harus pula
mengikis ketrampilan reduktif tertentu.
Saya berfokus lima kategori modalitas
belajar yang utama, yaitu abstrak-simbolis, visual, kinestetis, auditori, dan
sinergis. Ini adalah modalitas yang paling tepat untuk lingkungan sekolah,
keluarga, dan perusahaan.
1. Abstrak-Simbolis
Hanya
sedikit kebudayaan yang secara religious setia pada modalitas abstrak-simbolis
sebagaimana kebudayaan yang canggih teknoliginya. Kita mempunyai hubungan cinta
yang unik dengan sandi abstrak. Kita menilai kecerdasan seseorang dari
ketrampilannya memanfaatkan sandi-sandi itu. Sandi abstrak telah menjadi sarana
komunikasi utama, dan banyak guru dan orangtua menganggap fungsi pokok
pendidikan adalah menanamkan ketrampilan membaca, menulis, dan berhitung. Sandi
adalah representasi- mereka mewakili bentuk realitas tertentu. Kita menggunakan
“A” untuk nilai tertinggi di sekolah dan “1” untuk yang terbaik dalam bidang
olahraga.
Semua sandi dan symbol yang
mengungkapkannya ditentukan oleh aturan-aturan yang rasional, logis,
sekuensial, dan sesuai dengan waktu. Yang dinamakan bentuk pemrosesan “otak
kiri”.
Ciri unik
lainnya dari karya pikir simbolis adalah simbol itu mau tak mau mendaptkan
makna mereka sendiri. Pikiran mulai memanfaatkan mereka demi mereka sendiri dan
melupakan bahwa mereka diciptakan dengan tujuan sebagai representasi.
Jika anak menguasai ketrampilan dalam
modalitas ini, mereka pasti dianggap cemerlang atau cerdas. Maka dari itu,
banyak orangtua dengan penuh semangat memperhatikan uaha anak mereka untuk bisa
membaca dan menulis.
2. Visual
Kearifan
visual timbul dari pengelihatan. Manusia menyadari apa yang mereka lihat dan
apa yang mereka pahami itu terkait. Peranan pengelihatan itu cukup penting
dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga memberi kemampuan untuk mencatat,
menerapkan, dan bahkan mengubah apa yang telah dialami. Para sarjana yang mengkaji
asal-usul bahasa tulisan hampir semuanya bersepakat bahwa usaha penulisan yang
pertama adalah berupa gambar atau piktograf. Semua sandi tertulis berasal dari
karya seni lukisan.
Anak
mengembangkan kearifan visual jauh sebelum mereka menguasai sandi
Abstrak-Simbolis, karena orangtua dan guru modern relatif tidak peka terhadap
modalitas indrawi (visual, kinestetis, dan auditori) mereka sering
mengabaikannya atau memanfaatkannya untuk mendukung usaha meningkatkan prestasi
membaca, menulis, dan aritmetika.
Kearifan visual itu lebih dari sekedar
“kesenian”. Kearifan visual adalah sumber dari bentuk terdekat logika yang
bergantung pada metafora sebagai strukturnya.
3. Kinestetis
Sampai kini,
gagasan bahwa tubuh melukiskan antitesis pikiran telah melekat pada kebudayaan
barat. Di dalam ratusan ruang kelas di seluruh negeri, guru dan murid
menyatukan tubuh dan pikiran dalam pembelajaran. Program Outward Bound
dan program petualangan lainnya telah menumbuhkan kesadaran bahwa proses ini
merupakan jalan dua arah. Besarnya keterlibatan kinestetis ketika pikiran
sedang menjelajahi gagasan-gagasan dan nilai-nilai baru memastikan perpaduan
yang lebih holistis antara pikiran dan tubuh.
Pendekatan
kinestetis ini menawarkan berbagai keterampilan sepanjang hidup yang dapat
dilakukan sendiri oleh para murid, tanpa dokumen dari tim yang terorganisasi.
Di antaranya adalah ski menuruni bukit dan lintas alam, menyelam, mendaki
gunung, dan rekreasi serta berlari. Dalam pengalaman semacam ini, anak
mempunyai waktu mendengarkan tubuh dan pikiran mereka.
4. Auditori
Peranan
fungsi auditori dalam sistem otak pikiran memiliki contoh saat ujian seorang
murid mengetuk-ngetukkan pensilnya di atas meja dengan entakan yang rumit dan
berirama. Ketika tes dimulai murid itu menciptakan musik, saat itu juga untuk
disesuaikan dengan kata-kata pada setiap baris tes. Ia memang selalu kesulitan
membaca, hal ini mendorong ibunya untuk bertindak di rumah dengan menunjukkan
kepadanya bahwa ia dapat membaca. Ibunya mengajarinya untuk membaca bunyi dan
selanjutnya mengajarinya untuk membaca musik.
5. Sinergis
Pengaruh
sinergi adalah membuat ungkapan final dari interaksi itu lebih besar daripada
jumlah seluruh bagian-bagiannya. Secara sinergi, pikiran menciptakan perpaduan
yang kaya dan benar-benar baru dari semua modalitas. Cara sinergis termasuk
pengetahuan mengenai diri, hubungan orang lain, dan kaitan dengan sistem alam.
Dalam fungsi sinergi, kita melihat diri anak campuran antara kegembiraan dan
perasaan damai.
Ø
Kecerdasan
Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan
melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam masyarakat. Gardner menyatakan bahwa
bentuk-bentuk kecerdasan Matematis-Logis dan Linguistik paling disukai
masyarakat kita.
Tokoh lain yaitu Robert Sternberg
menggambarkan tiga kualitas kecerdasan yaitu Kontekstual, Eksperiensial, dan
Komponensial. Kecerdasan merupakan ungkapan dari cara menjadikan modalitas
belajar kita bermanfaat dalam masyarakat.
Ø
Gaya Belajar
Gaya belajar
adalah cara yang lebih kita sukai untuk memproses pengalaman dan informasi.
Gaya belajar adalah kebiasaan yang mencerminkan cara kita memperlakukan
pengalaman yang kita peroleh melalui modalitas.
Mc Carthy mengumpulkan empat preferensi atau kebiasaan dalam
memproses informasi.
|
PENGALAMAN KONKRET
EKSPERIMENTASI AKTIF PENGAMATAN
REFLEKTIF
KONSEPTUALISASI ABSTRAK
|
*CIRI-CIRI UMUM:
1. Pembelajar Kuadran 1 ( Preferensi pada
PENGALAMAN KONKRET dan PENGAMATAN REFLEKTIF)
-
Mereka lebih suka mendengarkan dan kemudian membahas gagasa-gagasan
dalam percakapan.
-
Mereka tertarik pada psikologi humanistis.
-
Mudah berempati, bijaksana, dan mudah bekerja sama.
-
Sangat tinggi harapannya terhadap orang lain.
2. Pembelajar Kuadran 2 (Preferensi pada
PENGAMATAN REFLEKTIF dan KONSEPTUALISASI ABSTRAK)
-
Berpegang teguh pada kebenaran.
-
Mereka suka bekerja dengan segala sesuatu yang jelas tujuannya, fungsi,
dan apa yang akan diraih.
-
Suka pada psikologi.
-
Memiliki daya ketepatan tinggi.
-
Pemaksaan untuk menjadi sempurna.
3. Pembelajar Kuadran 3 (Preferensi pada
EKSPERIMENTASI AKTIF dan KONSEPTUALISASI ABSTRAK)
-
Menyukai praktik langsung.
-
Mengagung-agungkan “fakta”.
-
Cekatan “SIAP-BIDIK-TEMBAK”.
-
Ketika dewasa nanti, suka ikut campur tangan.
-
Mampu menyelesaikan semua pekerjaan.
-
Pengganggu yang memaksa.
4. Pembelajar Kuadran 4 (Preferensi pada
PENGALAMAN KONKRET dan EKSPERIMENTASI AKTIF)
-
Suka menemukan jawaban sendiri.
-
Waktu kecil memiliki daya cipta dan bisa menghibur diri sendiri.
-
Percaya diri dan mampu mengarahkan diri sendiri.
-
Selalu berlebihan dalam berkomitmen.
Ø
Kreativitas
Membuka
pikiran dimaksudkan untuk mendukung keyakinan bahwa semua manusia diciptakan
berbeda-beda dirancang untuk mampu menguasai dan meraih kemuliaan dalam
berbagai atribut sistem otak-pikiran. Jika ada perbedaan semacam itu,
kemungkinan timbulnya kreativitas meningkat. Kreativitas membutuhkan modifikasi
pemikiran. Hasilnya dapat dikatakan baru atau luar biasa. Yang lama harus
diubah. Sedangkan Integritas dari kreativitas itu sendiri ialah:
a. Kreativitas itu lebih dari sekedar
perubahan.
b. Kreativitas itu mencakup ketepatan dan
presisi.
c. Kreativitas mungkin timbul dalam semua
modalitas, kecerdasan, dan gaya.
d. Kreativitas bisa bersifat umum dan juga
pribadi.
e. Kreativitas menghasilkan ungkapan yang
bermanfaat dan estetis.
f. Kreativitas dimulai dengan keragaman dan
diakhiri dengan kekhususan.
g. Kreativita membutuhkan keterbukaan dan
ketertutupan.
h. Kreativitas bersifat revolusioner.
i.
Kreativitas bergantung pada sikap
j.
Kreativitas terwujud dalam gaya hidup.
G. EPISODE, REFLEKSI, dan EKSPLORASI
Bagian ini
menyajikan beberapa metode-metode untuk menghormati berbagai modalitas dalam
pengajaran dan pengasuhan.
1. EPISODE 1
Ada
seorang anak yang menggambar pahlawan dan penjahat sedang berperang, karena hal
itu seorang guru menggambarnya menanyakan berbagai macam hal tentang lukisannya
itu seperti, “Gambar apa ini? Mengapa kau menggambar sesuatu yang begitu kejam?
Mengapa orang-orang ini aling bertempur? Siapa yang akan menang?” dengan hal
sekecil inilah si anak merasa kurang nyaman.
Refleksi:
Banyaknya
pertanyaan dari guru mengenai karya seninya memang jurus jitu agar dapat
menumbuhkan sikap membela diri terhadap usahanya, namun yang lebih penting
lagia ialah bagaimaa jenis pertanyaan yang diajukan. Guru di atas seharusnya
tidak berkata seperti itu. Contoh pertanyaannya ialah “ Ibu belum tau ini
gambar bumi atau planet lain. Wah, sepertinya penjahat itu edang berada dalam
kesulitan.ketika ibu kecil, kakak ibu sering menggambar lukisan perang, dan
ebagainya.”
Cara lain untuk menghormati ungkapan
visualnya dengan cara menyediakan ruang galeri untuk memamerkan karya mereka.
Eksplorasi:
·
Buatlah lukisan yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.
·
Gambarlah ruang kamar kalau dilihat dari bola lampu.
·
Gambar orang-orang yang dapat kau lihat dari tempatmu.
2. EPISODE 2
Guru
memutar musik lalu meminta muridnya untuk memperhatikan sebuah gambar, dan
meminta untuk menyimpan gambar yang paling menarik karena nanti gambar yang
telah dperhatikan akan dilukis. Setelah musik berhenti, guru meminta mereka
untuk tetap memperhatikan gambar perlahan-lahan dan menyimpannya dalam memori,
setelah dirasa siap murid boleh mencoba menggambarnya. Ketika gambar sudah
jadi, maka murid diminta untuk menempelkan hasul karyanya sembari mendengarkan
music kembali.
Refleksi:
Banyak
seniman visual yang mendengarkan musik saatmereka melukis, seperti Grofe dan
Copeland yang sering melihat sekilas pemandangan visual ketika mereka
menciptakan karya simfoni.
Eksplorasi:
·
Dengarkanlah musik lain dan gambarlah luksan yang tercipta dari music
itu.
·
Mainkan musik dengan warna-warna yang berbeda.
·
Mainkan musik untuk sebuah cerita.
3. EPISODE 3
Guru
bisa memberikan sebuah film pendek. Sebelum diputar guru member tahu tentang
tema film tersebut. Di depan kelas guru menyediakan kertas besar untuk
menampung gagasan mereka. Sebab guru meminta para siswa untuk menebak apa saja
yang akan terjadi, atau ada apa di sana (sebelum menonton film). Lalu, siswa
diminta menuliskan gagasannya di depan. Kemudian, mereka baru menonton film,
sehingga akan terasa meriah ketika ada kalimat atau suatu kejadian yang
ternyata tidak ada di film tersebut.
Refleksi:
Hindari
penentuan “Benar-Salah” sebab tidak ada produksi film yang komprehensif.
Misalnya, film mengenai gurun pasir mungkn tidak menyebut-nyebut unta padahal
beberapa anak mungkin menyebutkannya. Ini tidak bisa dianggap “salah” tetapi
benar dalam konteks yang berbeda.
Eksplorasi:
·
Lakukanlah juga dengan mengambil barang-barang yang tercantum dalam
daftar.
·
Ambillah dari iklan dan majalah.
·
Membaca deskripsi acara atau film .
4. EPISODE 4
Ruangan dipenuhi dengan perlengkapan seni.
Guru membolehkan siswa untuk mengambil semua bahan yang ada di ruangan
tersebut. Lalu guru memberikan tugas, tugas boleh didiskusikan oleh siapa saja
kecuali dengan guru, setelah tugas dijelaskan, murid tidak boleh bertanya
kembali mengenai tugasnya. Misalkan, guru menulis di papan tulis “Buatlah karya
seni yang mengungkapkan konsep cinta”. Akhirnya mau tidak mau murid merasa
kebingungan dan berdiskusi dengan teman lainnya.
Refleksi:
Variasi
aktivitas ini menggunakan kelompok. Dengan adanya hal ini maka setiap siswa
semakin memiliki banyak pengetahuan mengenai konsep cinta. Sebab setiap
kelompok pasti akan mengungkapkan konsep yang berbeda-beda.
Eksplorasi:
·
Adakanlah acara melukis dan setiap pesertanya bergiliran mengemukakan
gagasannya.
·
Buatlah lukisan dari benda kesayangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar